Part 3 – Monitoring Asrama Maria Bintang Kejora: Di Antara Muara, Misteri, dan Membawa Pulang Harapan

“Pastor, izin, kalau boleh saya tahu, apa yang menjadi harapan Pastor ke depan untuk asrama ini, melalui bantuan ini?”

Saya bertanya, diluar dari instrument pertanyaan yang sudah disediakan. Sebab saya pikir ada sesuatu yang ingin Pastor mau sampaikan namun sedang dipendam.

“Harapan kami sederhana saja, semoga bantuan ini tetap berlanjut, agar asrama ini tetap bisa berjalan dan terus menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar, tinggal, dan mendapatkan pendampingan. Kami juga berharap ada perhatian dan dukungan yang lebih baik, terutama untuk kebutuhan anak-anak dan fasilitas asrama, termasuk hunian mereka” jawabnya

Saya mengangguk sambil melihat kembali kondisi asrama dan lingkungan sekitarnya.

“Berarti yang paling penting adalah hunian mereka yang sudah tidak digunakan lagi karena hampir roboh itu dapat di bangun Kembali. Kemudian, bagaimana anak-anak tetap bisa mendapatkan pelayanan dan pendidikan dengan baik, ya Pastor?”

“Iya. Kami hanya berusaha melakukan yang kami bisa. Mudah-mudahan ke depan ada perhatian lebih dari berbagai pihak”

Setelah percakapan tersebut, suasana menjadi lebih santai. Saya merenung, diam sejenak dan berpikir, mengapa pemerintah daerah tidak bergerak cepat untuk menangani langsung persoalan-persoalan semacam ini? Dan mengapa PTFI tidak bisa memfasilitasi dan mendanai Pembangunan asrama ini?

Saat banyak pertanyaan bergejolak dalam benak dan pikiran saya, Pastor tiba-tiba menawarkan sesuatu yang sederhana.

“Mau minum kopi dulu?”

Saya sempat tersenyum dan mempertimbangkan tawaran tersebut.

“Wah, boleh juga, Pastor. Perjalanan dari tadi cukup melelahkan”

Namun, belum sempat saya menerima tawaran itu, teman-teman Perempuan langsung mengingatkan saya bahwa kita harus Kembali sebelum hari mulai gelap.

“Pak, kita harus segera kembali ke kota. Nanti terlalu sore kalau masih lama di sini.”

Saya kemudian tersenyum kepada Pastor.

“Ado, sebenarnya saya mau, Pastor. Tapi teman-teman sudah mengingatkan kami harus segera kembali. Lain kali saja kalau ada kesempatan berkunjung kesini lagi.”

Pastor pun tersenyum dan mengangguk “Iya, tidak apa-apa. Hati-hati di perjalanan.”

Tawaran kopi itu sebenarnya sederhana, tetapi terasa cukup menggoda setelah perjalanan panjang dan aktivitas monitoring yang cukup melelahkan. Namun, karena waktu terus berjalan dan kami harus segera kembali ke kota, akhirnya kami sudahi semuanya.

Sebelum menyudahi semuanya kami foto bersama dengan Pastor dan Frater yang ada disitu. Hingga akhirnya kami berpisah dengan mereka.

Kami berpamitan, berjabat tangan dengan Pastor dan Frater setempat. Kami keluar dari lingkungan rumah Pastori ini hingga tiba di jalan utama, saya melihat beberapa bapak-bapak sedang ada berdiri dijalan memperhatikan kami. Itu karena mereka penasaran.

Saya melihat seorang bapak membawa satu ekor Ikan ditangannya. Langkah saya terhenti di depannya.

“Bapak habis, mancing ikan kah?” Tanya saya penasaran

Ia tersenyum menjawab “Tidak, ini sa pu ipar Perempuan satu yang kasih. Kebetulan kami ketemu dijalan dan dirumah juga ada Sagu. Mau buat ikan Kuah”

“Wah, ini enak pasti” Kata saya sambil menatapnya

Tiba-tiba bapa itu bilang “Tawa Ewame”

Lah saya kaget kok bapak satu ini bisa ucapkan beberapa kalimat Bahasa Mee? Walaupun intonasi dan pelafalannya tidak jelas. Namun saya tercengang, dari mana bapak ini tahu kalau saya orang Mee. Darimana dia belajar Bahasa Mee? Tapi mungkin karena kebetulan Frater yang ada disitu juga berasal dari suku Mee, Kabupaten Deiyai yang bermarga Edowai.

Sambil mengeluarkan rokok yang saya bawa dari dalam noken, karena penasaran saya bertanya “Bapak bisa tahu Bahasa Mee, bapak belajar dimana?” sambil mengulurkan tangan kepada bapak itu menawarkan rokok.

“Saya, empat tahun di Dogiyai. Sekolah disana SMP” ujarnya sambil menarik satu batang rokok yang saya tawarkan.

“Oh, begitu ya. Luar biasa.”

Sedikit berbincang dengannya. Hingga bapak itu bercerita pengalamannya waktu sekolah di Dogiyai.

Saat saya sedang asik-asik berbicara, saya melihat teman-teman Perempuan mereka sudah jalan duluan, 3m lebih jaraknya dari saya. Akhirnya, saya menyudahi bincang-bincang dengan bapak-bapak disitu.

“Hormat, bapak-bapak saya jalan dulu”

“Yoo, anak selamat jalan”

Singkatku “Salam”

Saya melangkah secepatnya menghampiri teman-teman.

Matahari mulai meninggalkanWaktu sudah menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit.

Kami pun segera menuju ke Pelabuhan dimana speedboat diparkirkan.

Di sepanjang jalan kami melihat banyak warga berlalu-lalang. Ada yang mengadakan perlombaan 17an. Ada yang sedang ribut akibat ketidak adilan dalam perlombaan itu. Ada yang menonton serius, lagi ada berbincang-bincang.

Dalam perjalanan pengemudi atau yang memandu kami mendekat kepada saya dan berkata “Kayaknya kita harus menambah bahan bakar sekitar 10liter nih”

“Oh iyokah, bisa. Kita ambil sudah. Disini dong jual Dimana, bensinnya?” Saya merespon serta bertanya

Kata pengemudi “Itu yang sa masih belum tahu juga, sa tanya ke warga disini dulu?”

Lah kok dia belum tahu ya, kan dia lahir dan besar disini dan orang sini juga.

Ternyata!

Saya kembali teringat pada ceritanya. Sebelumnya, ia sempat bercerita bahwa dirinya hanya bertugas di tempat tersebut dan sebenarnya tidak pernah berkeliling kampung. Rumahnya sendiri berada di kota Timika.

Di tengah kebingungan, bagaimana kami mendapatkan bahan bakar, ia kemudian mencoba bertanya kepada beberapa bapak-bapak yang sedang berada di depan gapura atau jalan masuk di perkampungan.

“Pak, disini dong jual bensin, biasanya di mana?”

Salah seorang bapak yang sudah cukup tua kemudian menunjuk ke arah sebuah tempat.

“Ada Pertamina Mini di sana. Tapi kalau mau ambil bensin, harus pakai barcode”

Pengemudi itu kemudian menoleh kepada kami.

“Oh, harus pakai barcode, Pak. Bagaimana ini?”

Bapak tua tersebut dengan ramah kemudian menawarkan bantuan.

“Pake sa pu barcode saja. Nanti bisa ambil bensin di sana.”

Kami pun sedikit lega mendengar tawaran tersebut.

“Wah, terima kasih banyak, Bapak. Kami memang sedang membutuhkan bensin untuk perjalanan kembali.”

“Iya, tidak apa-apa. Silakan saja.”

Mendengar itu, saya hanya tersenyum lega. Bantuan sederhana dari orang yang bahkan baru kami temui ini terasa sangat berarti.

Dalam hati saya berkata, “Syukurlah, tong dapat bensin.”

Suasana yang sebelumnya sempat membuat saya khawatir perlahan menjadi lebih tenang. Saya belajar satu hal penting yakni kejadian kecil itu menjadi salah satu bagian yang berkesan dalam perjalanan tersebut bahwa di tempat yang jauh sekalipun, selalu ada orang baik yang bersedia membantu ketika kita sedang membutuhkan.

Beberapa saat saya harus menunggu teman-teman perempuan yang masih sibuk berfoto. Bagi mereka, mengabadikan momen di tempat seperti ini tentu menjadi bagian yang tidak ingin dilewatkan. Saya pun membiarkan mereka menikmati waktu sejenak sambil menunggu semuanya selesai.

Setelah itu, kami kembali ke rumah tempat sebelumnya kami menitipkan sepatu, air minum, dan mantel. Satu per satu barang-barang tersebut kami ambil dan persiapkan kembali untuk perjalanan menuju pelabuhan, tempat speedboat kami diparkirkan.

Setelah semuanya siap, kami mulai berjalan meninggalkan rumah tersebut. Perjalanan menuju pelabuhan terasa lebih ringan dibandingkan saat pertama kali datang. Kami sudah menyelesaikan kegiatan monitoring dan evaluasi, sehingga pikiran mulai beralih pada perjalanan pulang.

Sesampainya di pelabuhan, teman-teman perempuan mulai mengenakan mantel sebagai persiapan menghadapi kemungkinan hujan selama perjalanan menggunakan speedboat.

Sementara itu, saya memilih tidak mengenakan mantel. Saya sempat menatap ke arah langit yang terlihat sangat cerah. Tidak tampak tanda-tanda akan turun hujan.

“Kayaknya tidak akan hujan lagi. Langit sudah cerah begini.”

Teman-teman hanya tersenyum dan tetap mengenakan mantel mereka masing-masing.

Dalam hati saya merasa cukup yakin bahwa perjalanan pulang kali ini akan berjalan lancar tanpa hujan. Namun, dalam perjalanan seperti ini, cuaca memang sulit ditebak. Langit yang cerah beberapa saat sebelumnya bisa saja berubah dalam waktu singkat.

Kami kemudian mulai bersiap menaiki speedboat. Barang-barang dimasukkan kembali, kami memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu satu per satu naik ke speedboat. Perjalanan pulang pun segera dimulai, membawa kami meninggalkan kampung dan kembali menuju kota.

“Sudah siap?” Tanya pengemudi

Kami menjawab serentak “Sudah”

“Oke” Jawabnya singkat sambil pengemudi atau pemandu ini membuat tanda salib, sebagai doanya dalam kepercayaan Katolik.

Ia mulai menyalakan mesin speedboatnya.

Kami mulai keluar melalui kali yang sebelumnya kami lewati saat datang. Di muara kali ini, ada satu Pertamina Mini yang sudah dibangun. Pengemudi kemudian menghentikan speedboat untuk mengisi bahan bakar ke dalam galon yang sudah dibawanya.

Kami menunggu sambil beristirahat. Sambil menunggu, saya teringat bahwa sebelumnya saya sudah mengambil makanan untuk dibawa, agar nanti dalam perjalanan pulang saya bisa memakannya.

Saya membuka tas dan mengambil makanan tersebut. Sambil menunggu pengemudi mengisi bahan bakar, saya pun mulai makan. Tidak lama kemudian, makanan saya habis.

Tak lama setelah itu, pengemudi datang membawa galon yang tadi dibawanya. Setelah bahan bakar selesai diisi dan semuanya sudah siap, kami kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan pulang pun resmi dimulai.

Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari perlahan menghilang di balik cakrawala, meninggalkan sisa-sisa terang yang semakin lama semakin redup.

Kami kembali menelusuri muara yang sama.

Namun, perjalanan pulang terasa berbeda.

Saat berangkat, suasana masih terang. Kami bisa melihat tepian muara, pepohonan, rumah-rumah, dan jalur yang kami lewati. Kini semuanya perlahan berubah menjadi bayangan gelap.

Kami adalah pendatang yang baru pertama kali melewati jalur ini. Karena itu, rasa tegang mulai menyelimuti kami. Apalagi semakin jauh speedboat melaju, semakin sedikit cahaya yang bisa membantu kami mengenali arah.

Matahari benar-benar seperti ikut meninggalkan kami.

Penunjuk arah yang duduk di depan mulai lebih sering memperhatikan jalur yang akan kami lewati. Senter mulai dinyalakan untuk menerangi perjalanan ini. Ia terus menyalakan senter, mengarahkan cahayanya ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada sesuatu yang menghalangi perjalanan.

Hingga akhirnya kami tiba di sebuah cabang muara.

Di tempat itulah suasana mulai terasa aneh.

Ketika penunjuk arah sedang menyalakan senter dan melihat-lihat arah jalan yang akan kami lalui, tiba-tiba dari sisi kiri kami terlihat percikan cahaya. Semacam api tetapi berwarna.

Cahaya itu muncul seperti percikan api di tengah gelapnya tepian muara. Saya melihat percikan itu duluan, namun saya tidak memberitahukan teman-teman perempuan.

Ternyata Julvi, juga melihat hal itu secara refleks berkata kepada pengemudi speedboat,

“Kaka, di sebelah sana ada percikan api. Ada orangkah?”

Pengemudi menjawab singkat.

“Ya.”

Setelah itu ia diam.

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada kepanikan. Seolah-olah apa yang kami lihat merupakan sesuatu yang biasa bagi mereka. Justru sikap tenang itulah yang membuat saya semakin bertanya-tanya.

Apa sebenarnya yang ada di sana?

Mengapa ada percikan cahaya di tengah kegelapan?

Siapa yang berada di Tengah muara?

Namun, kami tidak punya waktu untuk mencari tahu. Speedboat terus bergerak.

Julvi, Lia, dan Devi kembali berbincang. Mereka berusaha mencairkan suasana. Mungkin mereka juga sedang mencoba menghilangkan rasa tegang yang mulai muncul.

Penunjuk arah yang sedang mengarahkan perahu ini berkata,

“Ada perahu”

Ia sambil memberikan kode kepada pengemudi menggunakan lampu senter yang dibawanya.

Tiba-tiba, di depan kami terlihat sebuah perahu. Perahu itu sedang melaju ke arah yang sama dengan kami.

Ya, kami kaget dan bingung. Kok tiba-tiba ada perahu di depan kami.

Kami pun semakin mendekat.

Namun, ketika speedboat kami hendak melewatinya, tiba-tiba perahu kami terasa oleng. Pengemudi berusaha mengambil jalur untuk melambung, tetapi speedboat seakan sulit dikendalikan.

Kita semua kaget ketika speedboat kami diguncang dan hampir dibuang kebagian tepi muara yang sangat rimbun pepohonan bakau.

“Arus airnya terlalu deras,” kata pengemudi.

Saya sedikit heran mendengarnya.

“Ahk, Ini muara, bukan kali atau sungai yang mengalir,” pikir saya dalam hati.

Namun, apa pun yang sedang terjadi, kami hanya bisa mempercayakan perjalanan kepada pengemudi dan penunjuk arah.

Pengemudi kembali mencoba mengendalikan speedboat. Namun, perahu kami kembali oleng. Rasanya seperti ada dorongan kuat dari samping yang membuat speedboat sulit bergerak sesuai arah yang kami inginkan.

Pengemudi akhirnya memutuskan untuk tidak memaksakan diri.

Kami menunggu.

Mesin tetap menyala.

Suara mesin speedboat terdengar jelas di tengah gelapnya muara. Sesekali terdengar suara air yang menghantam badan speedboat, menambah suasana yang semakin sunyi dan tegang.

Saat itulah saya mulai merasakan ketegangan yang berbeda.

Dalam hati saya berdoa.

Saya kemudian menyalakan sebatang rokok, mencoba menenangkan pikiran sambil menunggu kondisi air kembali memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan. Kemudian satu batang rokok saya buang kedalam air.

Rokok yang sebelumnya saya siapkan bukan sekadar untuk saya nikmati dalam perjalanan. Sebelumnya saya memang sempat membagikannya kepada beberapa pemuda dan tetua yang kami temui di Kokonao. Tetapi saya juga sudah memiliki alasan lain mengapa rokok itu saya bawa.

Saya sudah memiliki gambaran bahwa perjalanan menelusuri muara ini mungkin akan mempertemukan kami dengan sesuatu yang tidak biasa.

Karena itu, dalam situasi seperti ini, rokok tersebut menjadi semacam pegangan bagi saya, selain doa yang terus saya panjatkan dalam hati. Saya mencoba menenangkan diri, meskipun sebenarnya ada rasa cemas yang sulit saya sembunyikan.

“Mari bakar rokok dulu” Ajak si pengemudi sambil ia mengurangi laju speedboat

Wah, saya merasa ini ajakan yang baik, saya berkata “Mari, sama-sama bakar rokok”

Saya membagikannya kepada penunjuk arah juga, lalu sama-sama kami bakar rokok satu-satu batang lalu isap hingga selesai.

Mesin kembali dinyalakan, Setelah itu, ia kembali mencoba melambung. Perlahan speedboat mulai bergerak, membelah air yang gelap di hadapan kami.

Namun, rasa oleng itu kembali terasa. Seolah-olah ada arus kuat yang mendorong tubuh dan perahu kami ke arah yang tidak kami inginkan. Saya berusaha tetap tenang sambil memperhatikan gerakan speedboat dan kondisi di sekitar kami.

Tidak jauh dari posisi kami, kami kembali berada di samping perahu yang tadi sempat kami lihat. Saya memperhatikannya dengan saksama. Dalam suasana yang gelap seperti itu, keberadaan perahu tersebut justru membuat saya semakin penasaran.

Tidak ada orang.

Tidak ada lampu.

Tidak ada suara percakapan.

Yang terdengar hanya bunyi mesin speedboat kami yang terus menyala dan bergerak di tengah gelapnya muara. Sesekali suara air yang menghantam badan speedboat terdengar jelas, sementara di sekeliling kami hanya kegelapan yang seakan tidak berujung.

Saya tercengang.

Saya mencoba memastikan kembali apa yang saya lihat. Saya memperhatikannya sekali lagi, berharap mungkin ada seseorang yang sedang berada di dalamnya atau ada cahaya kecil yang sebelumnya tidak saya lihat.

Benar.

Tidak ada seorang pun yang terlihat.

Yang membuat saya semakin heran, dua orang penunjuk arah dan pengemudi justru terlihat biasa saja. Mereka tidak menunjukkan kepanikan ataupun rasa takut. Wajah mereka tetap tenang, seolah-olah situasi seperti itu bukan sesuatu yang baru bagi mereka.

Diam, ya, saya hanya diam saja memperhatikan mereka. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa tetap setenang itu sementara bagi kami, suasana malam tersebut terasa begitu asing dan menegangkan.

Akhirnya saya memilih untuk tidak banyak bertanya. Saya kembali memegang rokok, menarik napas perlahan, dan menyerahkan perjalanan ini kepada pengemudi sambil terus berdoa dalam hati agar kami bisa segera keluar dari gelapnya muara dan sampai dengan selamat.

Saya kemudian menyadari bahwa mungkin bagi mereka, perjalanan melewati jalur seperti ini memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka tahu bagaimana menghadapi arus, jalur muara, dan berbagai situasi yang mungkin bagi kami sebagai pendatang terasa asing dan menegangkan.

Namun, bagi kami yang baru pertama kali melewatinya, suasana malam itu benar-benar berbeda. Kegelapan membuat jarak terasa lebih dekat dan pandangan menjadi terbatas. Suara mesin speedboat terdengar semakin jelas, seolah-olah menjadi satu-satunya suara yang menemani kami di tengah sunyinya muara. Tepian muara hanya terlihat sebagai bayangan gelap yang samar, sementara sesekali cahaya senter bergerak ke kiri dan kanan untuk membantu melihat arah perjalanan.

Teman-teman perempuan pun terlihat gugup. Rasa takut perlahan menghantui mereka. Suasana di dalam speedboat menjadi lebih banyak diam. Tidak banyak yang kami katakan. Masing-masing seperti sibuk dengan pikiran sendiri, menunggu sampai speedboat benar-benar melewati bagian tersebut.

Dalam hati saya terus berdoa. Saya hanya berpikir satu hal: semoga kami bisa segera keluar dari jalur ini dan sampai dengan selamat.

Waktu terasa berjalan lebih lambat.

Setiap gerakan speedboat terasa kami perhatikan, terutama ketika perahu kembali sedikit bergoyang mengikuti arus. Kami hanya bisa bertahan, percaya kepada pengemudi dan dua orang penunjuk arah yang sejak awal terus berusaha membawa kami melewati jalur tersebut.

Setelah melewati bagian yang membuat kami tegang itu, speedboat kembali bergerak lebih lancar. Gerakannya mulai terasa stabil, dan perlahan ketegangan di antara kami mulai berkurang. Kami pun sedikit menghela napas lega. Perjalanan masih panjang, tetapi setidaknya bagian yang paling membuat kami cemas telah berhasil kami lewati.

Perlahan, suasana mulai berubah. Setelah cukup lama berada dalam perjalanan yang gelap dan sunyi, dari kejauhan terlihat sesuatu yang sejak tadi kami nantikan yaitu “cahaya”. Awalnya hanya tampak seperti titik-titik kecil di kejauhan, samar di antara gelapnya malam. Namun, semakin speedboat kami bergerak mendekat, cahaya itu perlahan menjadi semakin jelas. Lampu-lampu mulai terlihat, dan tanpa kami sadari, perasaan yang sejak tadi tegang mulai sedikit berkurang.

Tidak lama kemudian, kami tiba di sekitar Jembatan Pamako. Pemandangan yang kami lihat terasa berbeda dari beberapa saat sebelumnya. Lampu-lampu rumah mulai menerangi tepian, memantulkan cahaya di permukaan air yang kami lewati. Dari kejauhan mulai terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang, menjadi tanda bahwa kami sudah semakin dekat dengan kawasan yang lebih ramai dan kehidupan masyarakat.

Suasana yang sebelumnya gelap dan sunyi perlahan berganti menjadi suasana yang lebih hidup. Cahaya-cahaya dari rumah dan kendaraan membuat perjalanan terasa lebih aman dan menenangkan. Kemunculan cahaya itu bukan hanya sekadar lampu, tetapi seperti tanda bahwa kami perlahan sudah keluar dari suasana yang membuat hati tidak tenang sejak perjalanan pulang dimulai.

Teman-teman perempuan yang sejak tadi terlihat tegang mulai tersenyum. Beberapa dari mereka bahkan mulai tertawa. Saya bisa melihat perubahan pada wajah mereka. Tadi wajah-wajah itu terlihat penuh kecemasan, diam dan tegang mengikuti setiap gerakan speedboat. Sekarang, setelah melihat cahaya dan tanda-tanda kehidupan di sekitar kami, wajah mereka mulai dipenuhi kelegaan.

Saya sendiri merasakan hal yang sama.

Ada perasaan lega yang perlahan muncul setelah cukup lama menahan ketegangan. Kami tidak lagi hanya melihat kegelapan di sekeliling, tetapi mulai melihat rumah-rumah, lampu, jembatan, dan kendaraan yang menandakan bahwa perjalanan kami semakin mendekati tempat yang lebih aman.

Mungkin saat itu kami semua merasakan hal yang sama. Kami akhirnya keluar dari suasana gelap yang sejak perjalanan pulang tadi membuat hati tidak tenang. Cahaya di sekitar Jembatan Pamako seakan menjadi penanda bahwa bagian perjalanan yang penuh ketegangan perlahan telah kami lewati. Kami mulai kembali berbicara, tersenyum, dan menikmati perjalanan, meskipun perjalanan pulang masih belum sepenuhnya selesai.

Kami masih punya perjalanan terakhir yang dimana harus melewati kali. Kami kembali masuk menelusuri kali atau sungai terakhir untuk menuju tempat di mana sebelumnya kami turun dari Maxim dan dekat rumah warga itu.

Kali ini perjalanan terasa jauh lebih ringan.

Lampu-lampu sudah terlihat di sepanjang perjalanan, dan suara kehidupan kembali terdengar dari kejauhan. Tidak ada lagi kegelapan yang sepenuhnya menelan perjalanan kami seperti sebelumnya.

Teman-teman perempuan yang beberapa saat lalu masih terlihat tegang kini kembali bercanda dan tertawa. Suasana di dalam speedboat pun berubah. Ketegangan yang sejak tadi kami rasakan perlahan menghilang, digantikan oleh suasana yang lebih santai dan penuh kelegaan. Saya pun ikut tersenyum, menikmati sisa perjalanan sambil melihat cahaya-cahaya yang semakin dekat.

Tentu saja dalam hati saya mengucap syukur.

Perjalanan monitoring ini dari awal penuh pengalaman, mulai dari perjalanan menuju lokasi, kegiatan monitoring, hingga perjalanan pulang yang sempat membuat kami tegang, akhirnya membawa kami kembali dengan selamat.

Malam itu saya semakin menyadari bahwa perjalanan yang kami lalui bukan hanya tentang tempat yang kita datangi atau pekerjaan yang kita selesaikan. Perjalanan ini juga tentang apa yang kita rasakan di sepanjang jalan, perjalanan yang mengajarkan saya bahwa alam itu ternyata hidup.

Tentang rasa takut yang harus kita hadapi, tentang keberanian untuk terus melangkah, tentang mempercayai orang-orang yang membawa kita melewati jalan yang belum pernah kita kenal, dan yang paling penting, tentang rasa syukur ketika akhirnya kita bisa kembali melihat cahaya.

Speedboat terus bergerak menuju tempat kami turun. Dari kejauhan, tanda-tanda kehidupan semakin jelas. Tidak lama lagi kami akan kembali menginjakkan kaki di daratan, kembali bertemu dengan jalan raya, kendaraan, dan suasana kota yang sebelumnya kami tinggalkan.

Perjalanan pulang pun akhirnya hampir selesai.

Kami yang beberapa saat sebelumnya masih tegang dan diam, kini sudah bisa tertawa bersama. Tidak ada lagi wajah-wajah penuh kecemasan seperti ketika kami masih berada di tengah gelapnya muara. Yang tersisa hanyalah rasa lega karena kami telah melewati perjalanan itu bersama-sama.

Ada rasa lega.

Ada rasa bahagia.

Dan ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Begitu speedboat mulai mendekati tempat kami turun, suasana di dalam perahu langsung berubah. Teman-teman perempuan saling tersenyum, seolah tidak percaya perjalanan yang sempat membuat kami cemas akhirnya hampir selesai.

“Kita sudah sampai, ya?” tanya Lia sambil melihat ke arah daratan.

“Iya, sebentar lagi kita merapat,” jawab pengemudi dengan tenang.

“Syukurlah… akhirnya sampai juga,” kata Julvi, disambut tawa kecil dari kami.

Devi menarik napas panjang. “Tadi saya benar-benar tegang waktu di muara.”

Saya tersenyum. “Yang penting sekarang kita sudah sampai dengan selamat.”

Pengemudi ikut tersenyum sambil mengarahkan speedboat ke tepian. “Iya, yang penting semua aman.”

“Terima kasih, kaka. Sudah antar kami sampai kembali,” ujar Lia.

“Sama-sama. Mari kita turun pelan-pelan,” jawabnya.

Kami pun saling melihat dan tersenyum.

Rasa lelah masih terasa, tetapi rasa lega jauh lebih besar. Setelah perjalanan panjang dan penuh ketegangan, akhirnya kami benar-benar sampai di daratan.

Bagi saya, perjalanan malam itu menjadi bagian yang tidak mudah dilupakan. Bukan hanya karena kami akhirnya sampai dengan selamat, tetapi karena di sepanjang perjalanan tersebut kami belajar bahwa dalam keadaan apa pun, selalu ada alasan untuk tetap tenang, percaya, dan bersyukur ketika akhirnya cahaya kembali terlihat di depan mata.

Malam itu, kami pulang tidak hanya membawa hasil monitoring. Kami membawa sebuah pengalaman yang mungkin akan terus kami ceritakan.

Tentang muara yang kami lewati ketika matahari telah tenggelam.

Tentang percikan cahaya yang muncul dari kejauhan.

Tentang perahu tanpa seorang pun yang terlihat. Tentang speedboat yang sempat oleng di tengah perjalanan.

Tentang rasa takut yang perlahan berubah menjadi keberanian.

Tentang cahaya lampu rumah yang membuat kami kembali tersenyum.

Kami akhirnya sudah pulang. Dalam perjalanan, kami sempat singgah sejenak di rumah warga atau pemilik speedboat tempat kami sebelumnya turun dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kokonao. Setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kota. Sesampainya di kota, kami terlebih dahulu makan untuk mengisi tenaga setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Dengan rasa lelah dan mengantuk, akhirnya kami kembali ke tempat penginapan untuk beristirahat.

 

Selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *