“Kita tambat speedboatnya di sini,” ujar pengemudi sambil menunjuk ke arah tepian kali.
Teman-teman perempuan tampak agak bingung. Mereka saling memandang, seolah masih mencoba memahami mengapa kami harus berhenti di tempat tersebut.
“Bisa, tapi jarak ke asrama dekat to?” tanya Julvi.
Pengemudi menjawab singkat, “Dekat saja.”
“Oh, boleh,” jawab Julvi.
Pengemudi kemudian menjelaskan lebih lanjut.
“Kita sebenarnya bisa ikut jalur kali ini, tapi tidak bisa sampai langsung ke asrama karena sekarang musim kemarau. Air sudah surut.”
“Oh, iya kah?” tanya Lia.
“Iya. Kita bisa turun di jembatan dekat sini, lalu tong jalan kaki ke asrama,” jelasnya.
Kami pun mengangguk dan bersiap turun.
Speedboat kemudian perlahan diarahkan masuk ke sebuah kali yang menghubungkan langsung dengan kampung yang berada di bagian paling ujung distrik ini. Dari atas speedboat, kami mulai melihat rumah-rumah warga yang berdiri di sepanjang tepian kali.
Suasana mulai berbeda. Setelah sebelumnya kami melewati muara yang luas, kini jalur yang kami lalui semakin sempit dan tenang. Speedboat bergerak perlahan mengikuti aliran kali, membawa kami semakin dekat ke kampung dan asrama yang menjadi tujuan utama perjalanan kami.
Sepanjang perjalanan, kami melihat kehidupan masyarakat Kamoro yang begitu dekat dengan sungai.
Di pinggiran kali, warga yang sedang melakukan aktivitas memperhatikan kami dengan penuh rasa penasaran. Kami melihat anak-anak berlarian, bermain bola, mandi, bahkan mencuci di pinggir kali ini dengan gembira dan bahagia.
Airnya terlihat keruh, tetapi bagi mereka, sungai itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kami hanya bisa membalas tatapan mereka dengan senyum. Sesekali kami menganggukkan kepala sebagai tanda menyapa. Kemudian menggunakan kata sapaan selamat. Tidak banyak kata yang terucap, tetapi sapaan sederhana itu terasa cukup untuk membangun keakraban di tengah perjalanan kami.
Saat itu air sedang surut akibat musim kemarau. Speedboat yang kami gunakan tidak bisa merapat langsung ke asrama. Kami terpaksa memarkirkannya agak jauh dari lokasi asrama sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter.
Tidak jauh dari tempat speedboat kami parkir, kami bertemu dengan beberapa tetua yang sedang berada di sekitar lokasi. Mereka menyapa kami dengan ramah. Sebagian duduk di atas sebuah jembatan semen yang sedang dalam proses pembangunan.
“Kalinya tidak bisa tong lewat, jadi tong jalan kaki dari sini,” ujar pengemudi sekaligus pemandu, untuk kedua kalinya.
Saya menjawab, “Kita akan ikut pemandu saja.”
Kami kemudian mengikuti kedua pemandu tersebut. Kami baru berjalan sekitar dua meter ketika pemandangan di depan kami berubah. Kami harus melewati sebuah jembatan kayu yang kondisinya sudah cukup memprihatinkan.
Papan-papannya terlihat tua dan lapuk. Beberapa bagian fondasi dan penyangganya juga tampak goyang ketika diinjak. Kami berjalan dengan hati-hati karena papan yang warga gunakan kini sudah lapuk sehingga bisa saja sewaktu-waktu kaki kami terselip ke lubang papan atau bisa saja kami jatuh terluka akibat menginjak papan yang lapuk.
Saya membayangkan jika kondisi tersebut terus dibiarkan, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan jembatan itu akan semakin rusak dan berpotensi roboh.
Kami tetap melanjutkan perjalanan melewati jembatan tersebut. Setelah beberapa saat berjalan, sekitar 5 meter, kami akhirnya tiba di rumah salah satu pemandu kami, yakni pengemudi motor atau pengemudi perahu ini.
“Barang yang ingin ditaruh, mari. Nanti setelah kita balik dari asrama baru diambil,” kata pemandu.
Saya menjawab, “Oh iya. Saya cuma mau titip sepatu saja.”
Namun, bukan hanya sepatu yang kami titipkan. Air minum Aqua dan mantel yang kami bawa juga kami letakkan di rumah tersebut. Barang-barang itu untuk sementara kami tinggalkan agar perjalanan menuju asrama menjadi lebih ringan.
Di sisi lain, teman-teman perempuan yang ikut dalam perjalanan ini tampaknya sudah sangat lapar. Sejak perjalanan menyusuri sungai hingga sampai di muara, kami memang menahan lapar. Perjalanan tidak berjalan dengan mudah. Kami beberapa kali dihadapkan pada hujan, air yang dangkal, dan pohon-pohon tumbang yang menghalangi perjalanan.
“Kita makan dulu sudah,” kata Lia.
Saya menjawab, “Iyo, makan sudah.”
Julvi tampaknya agak tidak setuju dengan rencana itu. Karena waktu yang sangat terbatas. Namun, rasa lapar tentu sudah mulai terasa.
“Oh, iyo sudah, tong makan cepat,” katanya.
Karena saya masih belum merasa lapar, saya mengatakan, “Oh iya, sa pu bagian sa mau isi sebentar. Pulang baru saya makan.”
Saya menunggu teman-teman perempuan makan terlebih dahulu. Sambil menunggu, saya duduk dan mengisap sebatang rokok.
Setelah mereka selesai makan, perjalanan kembali dilanjutkan. Kami berjalan menuju asrama dengan dipandu oleh kedua pemandu kami.
Dari sana, kami melewati lorong-lorong di antara rumah warga yang sebagian jalannya sudah dibangun menggunakan semen.
Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana masyarakat setempat bisa membangun dan mengembangkan kampung mereka dengan keterbatasan akses transportasi yang ada?
Untuk mencapai Kokonao, masyarakat masih sangat bergantung pada jalur kali dan muara dengan menggunakan speedboat, sementara pesawat terbang pun tidak setiap saat tersedia. Dalam kondisi seperti itu, membangun fasilitas umum tentu bukan perkara mudah. Setiap material yang masuk membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perjuangan yang tidak sedikit.
Rasa heran bahkan kagum saya semakin besar ketika akhirnya kami tiba di jalan utama Distrik Kokonao. Jalan tersebut ternyata sudah dibangun menggunakan lapisan semen yang cukup tebal dan tampak kokoh. Saya melihatnya bukan sekadar sebagai sebuah jalan, tetapi sebagai gambaran dari usaha masyarakat untuk terus membangun daerahnya di tengah berbagai keterbatasan.
Di sana, rasa heran perlahan berubah menjadi rasa bangga. Kokonao mungkin berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses transportasi yang terbatas, tetapi saya melihat ada semangat masyarakat untuk membuat distrik ini terus berkembang.
Bagi saya, kemajuan seperti ini patut diapresiasi. Sebab di tempat yang aksesnya tidak semudah daerah lain, setiap pembangunan memiliki cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan kemauan masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Melihat jalan-jalan yang mulai tertata dan fasilitas yang terus berkembang, saya semakin menyadari bahwa kemajuan sebuah daerah tidak selalu harus diukur dari kemegahan bangunannya. Kadang, sebuah jalan semen di tengah keterbatasan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa masyarakat di tempat itu tidak pernah berhenti berusaha untuk maju.
***
Sepanjang jalan dihias dengan bendera mini; lapangan upacara sedang dibersihkan. Suasana di jalan mulai terasa lebih ramai. Banyak warga berlalu-lalang.
Di antara mereka, terlihat anak-anak yang masih berumur sekolah berjalan dari arah berlawanan dengan tujuan kami.
Rupanya, mereka sedang menuju suatu tempat untuk mengikuti berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan peringatan 17 Agustus.
“Ini anak-anak asrama. Coba tanya mereka,” kata pemandu kami
“Oh, iya,” jawab kami hampir bersamaan.
Anak-anak itu agak jauh di belakang kami. Karena urusan kami mau ke asrama mereka, kami memanggil mereka.
“Ade-ade, mari sini!”
Mereka kemudian mendekat.
Devi bertanya kepada mereka, “Di asrama masih ada ade-ade pu teman-teman kah?”
“Iyo, masih banyak,” jawab beberapa anak itu hampir bersamaan.
“Kalau guru masih adakah?” tanya Devi lagi.
“Iyo, ada.”
Jawaban mereka membuat kami sedikit lebih tenang. Artinya, kemungkinan besar kami bisa langsung bertemu dengan penghuni asrama dan pihak yang bertanggung jawab di sana.
“Ade-ade bisa antar kita kah” Tanya Julvi
Ade-ade saling tatap satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan.
“Oh, baik, Kakak-kakak, kami antar.”
Kini dua orang dari rombongan anak-anak tersebut kemudian bersedia mengantar kami. Mereka berjalan bersama kami sampai di jalan masuk menuju Asrama Putri yang lokasinya bersebelahan dengan rumah pastori.
Sesampainya di sekitar asrama, pandangan kami tertuju pada sebuah rumah yang berdiri berdampingan dengan bangunan asrama, tidak jauh dari pintu masuk utama.
Di depan rumah tersebut terlihat beberapa orang sedang duduk. Kami berjalan mendekati mereka dengan langkah kaki yang tertatih-tatih. Saya sengaja membiarkan teman-teman perempuan berjalan lebih dahulu. Sementara itu, saya mencoba memperhatikan kondisi lingkungan asrama secara keseluruhan.
Dari jarak dekat, saya melihat ada beberapa orang yang sedang duduk. Mereka terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Dua di antaranya merupakan warga pendatang dan dua lainnya adalah warga asli Papua. Mereka tampaknya sedang berbincang santai.
Ketika kami tiba di depan rumah tersebut, mereka langsung menyambut kami dengan ramah. Senyum dan jabat tangan menjadi pembuka pertemuan kami.
“Selamat sore,” sapa kami.
Mereka terlihat sedikit bingung. Tatapan mereka tertuju kepada kami beberapa saat, seolah mencoba memahami siapa kami dan apa tujuan kedatangan kami.
Devi kemudian mulai menjelaskan.
“Kami dari Dinas Pendidikan. Kami datang untuk melakukan monitoring.”
Namun, sebelum percakapan berlanjut lebih jauh, saya merasa perlu memastikan terlebih dahulu siapa yang kami temui.
“Tapi izin, Bapak. Sebelumnya kami ingin memastikan dulu. Apakah Bapak sebagai ketua pengurus asrama ini?” tanya saya.
“Oh Tidak. Saya sebagai pembina saja,” jawabnya.
Karena hal yang ingin kami tanyakan sangat urgen, kami meminta kedua pembina asrama itu untuk mengantarkan kami bertemu langsung dengan kepala asrama atau pastor setempat.
Kami berpamit dengan pembina asrama yang awalnya kami jumpai, lalu melangkah ke rumah pastori di mana pastor ini tinggal.
“Oh, kalau begitu, ketua atau kepala pengurus asramanya ada, Pak?” tanya saya.
“Ada. Mau ketemu beliau?” jawabnya.
“Iya, kami mau ketemu beliau,” jawab saya.
“Beliau ada di rumah sebelah,” jelasnya sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat kami sedang duduk ini.
“Saya panggilkan kah?” tawarnya.
“Biar kami yang ke sana saja, Pak,” jawab kami.
“Oh, baik,” katanya.
Salah seorang frater yang berada di tempat tersebut kemudian berdiri dan menawarkan diri untuk mengantar kami.
“Mari, saya antar,” katanya.
Kami pun mengikuti langkah Frater tersebut. Ia berjalan di depan, memandu kami menuju rumah tempat pastor berada.
***
“Selamat sore, Bapak,” sapa kami serempak.
“Selamat sore. Selamat datang. Baru sampai kah?” tanya Pastor.
Jawab kami “Iya, Pak. Kami baru sampai,”
“Tadi dari kota jam berapa berangkat ke sini?” pastor bertanya
“Sekitar jam sembilan lewat setengah sepuluh, Pak. Kami mulai berangkat dari pamako,” jawab kami.
“Oh, begitu ya.”
“Iya, Pak. Tadi hujan deras dan air juga sedang surut, jadi perjalanan agak lama,” jelas kami.
“Oh, benar,” jawab beliau sambil mengangguk.
Kami kemudian berbasa-basi sebentar. Suasananya cukup santai setelah perjalanan panjang yang kami tempuh dari Timika. Sementara itu, teman-teman perempuan mulai menyiapkan instrumen dan perlengkapan yang akan digunakan untuk wawancara serta pengambilan data. Sebelum rekan-rekan saya mulai bertanya lebih jauh, saya terlebih dahulu memastikan kepada kepala pengurus asrama atau pastor yang kami temui itu mengenai tujuan kedatangan kami.
“Izin, Pak. Sebelum kami berbincang lebih jauh, apakah Bapak sudah mengetahui tujuan kami datang ke sini?”
“Sudah,” jawab Pastor.
Julvi kemudian menambahkan,
“Tadi malam saya sudah sampaikan melalui WhatsApp, Jhon.”
“Oh, kalau begitu mantap, Julvia. Lanjut,” jawab saya.
Devi mengeluarkan lembar instrumen pertanyaan dan bertanya, sedangkan Julvi menulis beberapa hal penting dalam buku catatan, dan Lia merekam semuanya menggunakan HP-nya. Saya hanya menyimak dengan saksama setiap jawaban dari pengurus ketua asrama atau pastor ini.
Devi kemudian membuka instrumen wawancara yang sejak tadi dipersiapkannya. Ia memeriksa kembali beberapa pertanyaan, kemudian mulai mengarahkan pembicaraan dengan sopan.
“Izin, Pastor. Boleh kami tahu nama lengkap Pastor?”
Pastor yang duduk di hadapan kami kemudian memperkenalkan dirinya.
“Saya Pastor Paulus Driyan Suwandi, SCJ.”
Devi mengangguk sambil mencatat nama tersebut.
“Baik, Pastor. Kalau boleh kami tahu, sebenarnya siapa yang menjadi pengelola asrama ini?”
Pastor Paulus menjelaskan dengan tenang.
“Kalau pengelolanya sebenarnya adalah Keuskupan. Kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Paroki. Di sini ada pastor dan suster yang bertugas. Jadi, yang sekarang mengelola asrama ini adalah Paroki Maria Bintang Laut, bersama pastor dan suster yang ada di tempat ini.”
Ia kemudian menjelaskan nama asrama yang menjadi tujuan kami.
“Nama asramanya adalah Asrama Maria Bintang Kejora.”
Devi kembali menundukkan kepala, mencatat keterangan tersebut sebelum melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
“Kalau untuk jumlah penghuni asrama sekarang, total anak-anak yang tinggal di sini ada berapa, Pastor?”
“Sekarang totalnya sudah 116 anak,” jawab Pastor Paulus.
Devi kemudian mengangkat wajahnya.
“Dari jumlah tersebut, kira-kira berapa yang merupakan Orang Asli Papua, Pastor?”
“Ini OAP semua,” jawabnya. “Tetapi mayoritas berasal dari suku Mimikawe. Dari Amungme ada sekitar dua orang. Kemudian yang dari pegunungan Intan Jaya ada tiga orang.”
“Kalau untuk putra dan putri, pembagiannya bagaimana, Pastor?”
“Putranya ada 64 dan putrinya ada 56.”
Devi kembali mencatat. Setelah itu, ia mencoba memahami dinamika jumlah penghuni asrama karena saat itu masih berada pada awal semester.
“Berarti sekarang memang jumlahnya masih cukup banyak karena baru masuk semester?”
“Iya,” jawab Pastor Paulus. “Ini kan baru semester awal, jadi memang banyak. Tetapi nanti ketika mereka libur Natal, biasanya banyak yang pulang dan tidak kembali lagi ke sini. Hampir setiap tahun seperti itu.”
Devi tampak sedikit penasaran.
“Jadi, ketika awal masuk jumlahnya banyak, tetapi ketika liburan ada yang tidak kembali lagi?”
“Iya. Tidak seratus persen kembali. Mungkin sekitar 90 persen masih ada. Ada yang tertinggal di kampung.”
“Kenapa mereka bisa tertinggal di kampung, Pastor?”
“Banyak alasannya. Salah satunya karena cuaca di laut. Kadang tidak ada BBM dan ada juga berbagai kendala lainnya. Jadi mereka tidak bisa kembali tepat waktu.”
Devi mengangguk. Ia kemudian beralih kepada kebutuhan dasar anak-anak yang tinggal di asrama.
“Bagaimana dengan ketersediaan makanan, Pastor? Apakah dana hibah yang diberikan juga digunakan untuk membeli bahan makanan?”
Pastor Paulus menggeleng.
“Kalau dana hibah yang diberikan kemarin, sama sekali tidak menyentuh bahan makanan.”
Devi kembali bertanya untuk memastikan.
“Kenapa begitu, Pastor?”
“Karena bahan makanan di sini sudah ada dananya dari Keuskupan. Dana dari Keuskupan itu setiap bulan memang ada, tetapi penggunaannya untuk operasional sehari-hari. Karena itu, untuk dana hibah saya sudah berkoordinasi dengan Pak Kuwaiyo. Kami membicarakan bagaimana penggunaannya supaya tidak terjadi tumpang tindih, terutama untuk kebutuhan makanan.”
Devi mencatat penjelasan tersebut. Kemudian ia mengalihkan pertanyaan kepada persoalan yang sejak awal cukup menarik perhatian kami: air bersih.
“Kalau untuk ketersediaan air, terutama air untuk mandi, bagaimana kondisinya di sini, Pastor? Apakah lancar dan bersih?”
Wajah Pastor Paulus sedikit berubah. Sepertinya persoalan air memang menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi pengelola asrama.
“Itu yang menjadi kesulitan kami di sini,” katanya. “Untuk ketersediaan air bersih, kami hanya mengandalkan air hujan.”
Ia kemudian menunjuk ke arah tempat penampungan air yang telah disiapkan.
“Di sana kelihatan kami sudah siapkan profil untuk menampung air. Kalau untuk mandi, mereka menggunakan air sumur. Tetapi air sumur di sini tidak terlalu bagus. Warnanya agak kekuningan dan rasanya asin.”
Devi memperhatikan arah yang ditunjuk Pastor.
“Berarti kebutuhan air sangat bergantung pada kondisi cuaca?”
“Iya. Makanya kemarin kami coba menambah bak penampungan di situ supaya ketersediaan air bisa lebih banyak.”
Ia tersenyum kecil, lalu melanjutkan.
“Tapi namanya anak-anak, mereka mandi setiap hari dua kali. Jadi, sebanyak apa pun air yang tersedia, pasti akan cepat habis.”
Kami memahami bahwa persoalan air bukan sekadar masalah fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan sehari-hari lebih dari seratus anak yang tinggal di asrama.
Devi kemudian masuk ke pertanyaan mengenai tempat tidur dan hunian.
“Kalau untuk fasilitas kamar tidur, bagaimana kondisinya, Pastor?”
“Kalau kasur, akhirnya untuk semester ini kami menggunakan dana hibah kemarin,” jawabnya.
“Sebelumnya memang sudah ada kasur di asrama putra. Sekarang semuanya sudah menggunakan kasur.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
“Tetapi kesulitan kami yang paling besar justru soal hunian.”
Devi menatap Pastor dengan lebih serius.
“Masalahnya di bagian hunian, Pastor?”
“Iya. Nanti bisa lihat sendiri di sana. Gedung lama sudah tidak dipakai. Kemudian gedung baru yang baru sekitar lima tahun digunakan itu sekarang juga sudah tidak dipakai karena risikonya lebih besar.”
“Kenapa gedung itu tidak bisa digunakan lagi?”
“Karena sudah mulai goyang. Struktur bangunannya menggunakan baja ringan dan sekarang sudah rapuh. Tangga untuk naik ke lantai dua juga sudah rubuh.”
Rekan-rekan perempuan tampak terkejut.
“Rubuh, Pastor?”
“Iya. Itu terjadi semester kemarin. Kami sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Keuskupan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut.”
Pastor Paulus kemudian menjelaskan solusi sementara yang mereka ambil.
“Karena itu, secara darurat kami menggunakan gedung Puskesmas sebagai asrama putra.”
“Puskesmas dijadikan tempat tinggal anak-anak?” tanya Devi memastikan.
“Iya. Daripada mereka tidak punya tempat, yang penting mereka bisa tidur dan aman. Kami tidak mau setiap malam harus waswas memikirkan gedung roboh. Ini anak orang. Kalau gedung sampai roboh, tentu banyak yang menjadi korban.”
Suasana percakapan sejenak menjadi hening.
“Jadi penggunaan Puskesmas ini sifatnya hanya sementara, Pastor?”
“Iya, darurat. Karena memang tidak ada tempat lain. Makanya kemarin sebenarnya kami ingin mengajukan dana hibah tahun ini, kalau memungkinkan, untuk membangun hunian. Tetapi akhirnya sulit karena tidak sesuai dengan juknis.”
Devi mengangguk dan kembali mencatat.
Setelah membicarakan hunian, ia melanjutkan pertanyaan mengenai fasilitas belajar.
“Bagaimana dengan fasilitas belajar anak-anak di asrama, Pastor? Apakah ada ruang belajar khusus?”
“Sekarang kalau ruang belajar khusus, tidak ada,” jawab Pastor Paulus. “Akhirnya kami menggunakan beberapa ruangan yang ada. Kadang aula, ruang makan, dan ruang doa.”
Ia kemudian kembali menjelaskan mengenai gedung Puskesmas.
“Sebenarnya kalau Puskesmas ini diserahkan kepada kami, bisa juga kami rombak dan jadikan asrama yang lebih bagus. Cuma dari Dinas Kesehatan belum menyerahkannya kepada Keuskupan. Dari pihak Keuskupan juga sebenarnya tidak mengizinkan gedung itu digunakan sebagai asrama.”
“Lalu mengapa tetap digunakan, Pastor?”
“Karena kami yang tahu situasi di tempat ini. Kondisinya darurat dan tidak ada tempat lain. Jadi mau tidak mau kami gunakan sementara. Sambil menunggu kalau ada bangunan dari Pamako atau tempat lain yang bisa digunakan.”
Devi kemudian berpindah pada persoalan pembinaan anak-anak.
“Kalau untuk pelayanan pembina di sini bagaimana, Pastor?”
“Ini kan masih semester baru. Kalau semester kemarin memang pembagiannya berbeda. Frater yang ada di samping saya ini juga baru mulai semester ini.”
Ia kemudian menjelaskan jumlah pembina.
“Tetapi sekarang pembinanya sudah lumayan. Ada tujuh orang. Jadi ada pembagian tugas. Ada yang bertugas pagi dan ada yang bertugas sore.”
Devi kemudian bertanya tentang kehidupan anak-anak di luar kegiatan sekolah.
“Selain belajar, apakah ada kegiatan lain yang dilakukan anak-anak di asrama?”
“Ada,” jawab Pastor Paulus.
“Untuk kegiatan ibadah, mereka mulai dengan doa pagi, kemudian dilanjutkan dengan misa. Setelah misa mereka sarapan, lalu masuk sekolah.”
“Setelah pulang sekolah bagaimana, Pastor?”
“Setelah pulang sekolah mereka makan siang. Kemudian istirahat sampai sekitar jam tiga sore.”
“Setelah itu?”
“Dari jam tiga sore sampai jam lima, ada waktu untuk olahraga dan ada juga waktu untuk kerja.”
Pastor Paulus kemudian menjelaskan pola kegiatan mereka secara lebih rinci.
“Kalau mengikuti aturan lama, biasanya Senin, Selasa, dan Rabu menjadi waktu kerja. Kemudian Kamis, Jumat, dan Sabtu lebih banyak digunakan untuk kegiatan ibadah. Sampai jam lima sore. Setelah itu lonceng dibunyikan oleh komandan atau yang bertugas, lalu jam enam mereka berkumpul di aula.”
“Apakah ada kegiatan khusus pada sore hari?” tanya Devi.
“Ada. Pada hari-hari tertentu mereka juga latihan koor. Setelah itu mereka belajar langsung di sana. Malamnya makan malam, kemudian mereka mengatur waktu belajar sendiri.”
Devi terlihat tertarik ketika Pastor mulai menceritakan kegiatan akhir pekan.
“Kalau malam minggu bagaimana, Pastor?”
“Kami juga membuat pembagian kegiatan setiap minggu. Minggu pertama ada acara bersama. Minggu kedua biasanya nonton film. Minggu ketiga rekreasi. Kemudian minggu keempat kami bakar sagu dan ikan bersama anak-anak.”
“Bakar sagu dan ikan bersama?”
“Iya,” jawab Pastor sambil tersenyum. “Setelah doa sore, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mencari kayu bakar. Setelah itu mereka diberikan tempat untuk memasak. Mereka memasak sagu secara berkelompok, kemudian makan bersama.”
Ia menjelaskan alasan di balik kegiatan tersebut.
“Tujuannya supaya mereka tidak lupa dengan budaya mereka. Karena orang Mimikawe makanan pokoknya sagu. Kalau mereka terus makan nasi, lama-lama mereka bisa lupa makanan pokok mereka sendiri.”
Devi mengangguk. Bagi kami, kegiatan tersebut bukan sekadar kegiatan rekreasi. Ada upaya untuk menjaga hubungan anak-anak dengan budaya dan kehidupan masyarakat asal mereka.
Setelah cukup panjang membahas kegiatan anak-anak, Devi masuk pada pertanyaan mengenai biaya.
“Apakah asrama ini memungut biaya dari anak-anak, Pastor?”
“Sama sekali tidak memungut biaya untuk kebutuhan asrama sehari-hari,” jawab Pastor Paulus.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ada biaya tertentu pada saat proses masuk.
“Ketika masuk asrama, ada pembayaran sebesar Rp300.000. Kemudian biaya pendaftaran Rp100.000 dan ada biaya sarana-prasarana Rp300.000.”
Devi kemudian memastikan penggunaan biaya tersebut.
“Uang itu digunakan untuk apa saja, Pastor?”
“Untuk beberapa kebutuhan. Misalnya untuk masa bakti sekitar seratus ribu rupiah, rosario sekitar dua puluh lima ribu rupiah, kemudian membeli parang untuk kerja, ember, dan gayung.”
“Kenapa harus membeli ember, Pastor?”
“Karena mereka harus mengambil air dari sumur dan membawanya ke kamar mandi. Jadi ember memang menjadi salah satu perlengkapan yang mereka butuhkan.”
Devi kembali melihat catatannya. Masih ada satu bagian penting yang ingin ia pastikan sebelum wawancara ditutup: realisasi dana hibah.
“Untuk realisasi anggaran bantuan dana hibah tahun kemarin, apakah sudah dijalankan seratus persen?”
“Sudah seratus persen,” jawab Pastor Paulus. “Hanya ada beberapa barang yang belum sampai di sini.”
Devi mengernyitkan dahi.
“Belum sampai maksudnya bagaimana, Pastor?”
“Genset dan bentor itu sekarang masih di Timika. Kalau bentor, kemarin sebenarnya sudah dibawa ke sini. Tetapi baru sampai di Pomako, mengalami kecelakaan dan jatuh ke selokan.”
“Wah, begitu, Pastor?”
“Iya. Akhirnya bagian depannya rusak sama sekali. Kemudian masuk bengkel dan menghabiskan sekitar delapan juta rupiah untuk perbaikan.”
“Kalau genset bagaimana?”
“Genset juga masih di Timika. Kemudian ada perahu juga.”
Pastor Paulus kemudian menegaskan kembali mengenai realisasi anggaran tersebut.
“Jadi, semua dana sudah dibelanjakan semuanya. Tetapi kalau mau cek barang-barangnya, bisa.”
Devi menutup catatannya perlahan. Wawancara itu ternyata membuka banyak hal yang sebelumnya tidak kami ketahui. Di balik keberadaan lebih dari seratus anak di Asrama Maria Bintang Kejora, ternyata ada persoalan air bersih, keterbatasan ruang belajar, kondisi hunian yang mengkhawatirkan, hingga berbagai upaya pengelola untuk menjaga kehidupan dan budaya anak-anak di tengah keterbatasan.
Saya yang sejak tadi ikut mendengarkan percakapan itu hanya diam. Perjalanan panjang menuju Kokonao mulai menemukan maknanya. Kami datang bukan hanya untuk mengisi instrumen monitoring, mencatat angka, dan mengumpulkan dokumen. Kami mulai melihat langsung bagaimana sebuah asrama di wilayah terpencil berusaha bertahan, merawat anak-anak, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan segala keterbatasan yang ada.
Setelah Devi selesai mengajukan pertanyaan dan mencatat seluruh keterangan yang diperlukan, pastor mengajak kami kami melihat langsung kondisi asrama dan berbagai fasilitas yang ada. Kami pun bangkit dari tempat duduk. Pastor Paulus berjalan lebih dahulu, sementara kami mengikuti dari belakang. Devi dan teman-teman masih membawa instrumen monitoring yang sesekali mereka lihat kembali untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
Tempat pertama yang kami lihat adalah garasi bentor.
“Ini garasi untuk bentor. Ini salah satu fasilitas yang dibangun dari bantuan dana yang kami terima.”
Kami berhenti sejenak untuk melihat kondisi garasi tersebut. Pastor menjelaskan bahwa fasilitas itu disiapkan untuk mendukung kebutuhan transportasi dan aktivitas sehari-hari di lingkungan asrama. Devi kembali mencatat beberapa keterangan, Julvi dan Lia mengambil foto sebagai bagian dari dokumentasi monitoring.
Dari garasi, Pastor kemudian membawa kami menuju tempat speedboat ditaruh. Disana terdapat banyak speedboat. Kami bingung yang mana.
“Speedboat yang asrama punya, yang mana, Pastor?” tanya Devi.
Jawab pastor, “Yang paling ujung yang agak besar itu, warna biru. Ini speedboat yang dibeli untuk mendukung kebutuhan transportasi,”
Saya kembali teringat perjalanan kami beberapa jam sebelumnya. Kami sendiri baru saja menggunakan jalur air untuk sampai ke Kokonao. Tanpa transportasi seperti ini, tentu mobilitas masyarakat dan pengelola asrama akan jauh lebih sulit.
“Berarti ini memang sangat penting untuk kebutuhan di sini, Pastor?” tanya Devi.
“Iya. Karena di sini transportasi utama memang melalui air. Jadi, speedboat sangat membantu.”
Kami mengangguk memahami penjelasan tersebut.
“Pelabuhan yang kita sedang berdiri di atasnya ini juga dibangun menggunakan anggarannya.” Kata pastor
Sambil menundukkan kepala kami melihat dengan baik, Pelabuhan ini dibangun dengan kokoh.
Perjalanan kami kemudian dilanjutkan menuju asrama putri.
“Ini juga bagian dari fasilitas yang dibangun?” tanya Devi.
“Iya. Ketika musim hujan, airnya memenuhi halaman yang saat ini sedang kering ini.”
Jadi jembaan ini menghubungkan, lingkungan asrama putri, rumah Pembina, aula, dan dapur. Saya kembali memperhatikan bagaimana kondisi geografis di Kokonao membuat fasilitas sederhana seperti jembatan memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah melihat jembatan, Pastor membawa kami menuju lokasi yang berkaitan dengan genset.
“Kalau gensetnya di mana, Pastor?” tanya Devi.
“Barangnya ada, tetapi untuk unit yang tadi saya jelaskan, masih ada di Timika,” jawabnya.
Devi kembali mencatat keterangan tersebut.
“Berarti nanti kalau barangnya sudah tiba di sini, akan digunakan untuk kebutuhan asrama?”
“Iya, tentu untuk menunjang kebutuhan listrik dan aktivitas di asrama.”
Di tempat yang sama kami melihat berbagai alat music yang masih belum digunakan karena keterbatasan ruangan.
Kami kembali mendokumentasikan fasilitas tersebut.
Setelah itu Pastor membawa kami menuju asrama putri. Saya tidak ikut serta dalam melihat ini, saya hanya berdiri didepan pintu masuknya. Saya membiarkan teman-teman Perempuan saja melihat kondisi ruangan mereka.
Dari asrama putri, kami kemudian berjalan menuju aula.
“Ini aula yang tadi Pastor ceritakan?” tanya Devi.
“Iya. Aula ini juga digunakan untuk berbagai kegiatan. Termasuk kegiatan bersama, doa, dan kegiatan lainnya.”
Devi melihat ke dalam ruangan.
“Berarti aula ini juga digunakan sebagai tempat belajar ketika tidak ada ruang belajar khusus?”
“Iya. Karena ruang belajar khusus memang belum tersedia, jadi beberapa ruangan seperti aula bisa digunakan untuk kegiatan belajar.”
Kami kembali mencatat kondisi fasilitas tersebut.
Setelah dari aula, Pastor membawa kami melihat bagian ruang masak atau dapur.
“Ini bagian ruang masak atau dapur asrama,” jelasnya.
Kami melihat kondisi ruangan tersebut dan beberapa fasilitas yang tersedia. Seperti air bersih untuk memasak, kompor, bama, dan lainnya. Saya berjalan perlahan sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Dari satu bangunan ke bangunan lainnya, mulai terlihat bagaimana bantuan yang diterima berusaha diwujudkan dalam bentuk fasilitas yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan anak-anak.
Dapur atau tempat masak ini merupakan tempat tinggal para suster yang bertugas disana. Sekalian mereka yang mengelolanya.
Dan kami bersalaman dengan suster-suster yang ada disitu. Kemudian Pastor membawa kami menuju bangunan yang sebelumnya sudah ia ceritakan ketika wawancara.
“Sekarang saya mau tunjukkan tempat anak-anak putra tinggal,” katanya.
Kami pun mengikuti Pastor menuju sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai Puskesmas.
“Ini yang tadi Pastor maksud sebagai asrama putra?” tanya Devi.
“Iya. Untuk sementara kami gunakan sebagai asrama putra karena gedung asrama yang lama sudah tidak aman.”
Kami masuk dan melihat kondisi ruangan yang digunakan oleh anak-anak untuk tidur.
Devi tampak memperhatikan kondisi bangunan dengan serius.
“Berarti ini memang sifatnya sementara, Pastor?”
“Iya. Ini hanya karena kondisi darurat. Kami belum punya tempat lain yang lebih layak untuk digunakan.”
Saya kembali teringat penjelasan Pastor sebelumnya tentang kondisi bangunan asrama putra yang lama. Kekhawatiran tentang keselamatan anak-anak menjadi alasan utama penggunaan gedung ini.
Setelah melihat gedung Puskesmas, Pastor kemudian mengajak kami menuju bangunan lama. Namun kali ini saya hanya melihat bangunan puskesmas yang digunakan sebagai asrama putra. Saya tidak ikut serta dalam melihat asrama Putra yang lama.
Setelah seluruh fasilitas utama kami lihat, Pastor membawa kami kembali menuju halaman pastori.
Kami berjalan perlahan. Devi kembali memeriksa catatan dan dokumentasi yang telah dibuat.
“Pastor, terima kasih sudah membawa kami melihat langsung semua fasilitas yang ada,” kata Devi.
“Iya, sama-sama,” jawab Pastor Paulus.
Saya kemudian menambahkan,
“Dengan melihat langsung seperti ini, kami jadi lebih mudah memahami kondisi sebenarnya di lapangan, Pastor. Apa yang tadi kami dengar saat wawancara sekarang bisa kami lihat sendiri.”
Pastor mengangguk.
“Iya. Memang lebih baik kalau melihat langsung. Karena kondisi di sini berbeda dengan yang ada di kota.”
Kami kembali duduk di rumah pastori.
Bagi kami, perjalanan berkeliling itu bukan sekadar melihat bangunan dan mencocokkannya dengan daftar bantuan. Kami mulai melihat bagaimana bantuan pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah hadir dalam bentuk fasilitas yang digunakan untuk menunjang kehidupan anak-anak di asrama.
Namun, di balik fasilitas yang telah tersedia, kami juga menemukan berbagai persoalan yang masih membutuhkan perhatian: keterbatasan air bersih, ruang belajar, hunian putra yang tidak lagi aman, serta kebutuhan fasilitas lain yang harus disesuaikan dengan kondisi geografis Kokonao.
Hari itu, monitoring bagi kami tidak lagi sekadar membaca dokumen dan memeriksa laporan. Kami telah melihat sendiri bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan bagaimana kehidupan anak-anak berlangsung di tempat yang jauh dari pusat kota.
Bersambung…
“Kita tambat speedboatnya di sini,” ujar pengemudi sambil menunjuk ke arah tepian kali.
Teman-teman perempuan tampak agak bingung. Mereka saling memandang, seolah masih mencoba memahami mengapa kami harus berhenti di tempat tersebut.
“Bisa, tapi jarak ke asrama dekat to?” tanya Julvi.
Pengemudi menjawab singkat, “Dekat saja.”
“Oh, boleh,” jawab Julvi.
Pengemudi kemudian menjelaskan lebih lanjut.
“Kita sebenarnya bisa ikut jalur kali ini, tapi tidak bisa sampai langsung ke asrama karena sekarang musim kemarau. Air sudah surut.”
“Oh, iya kah?” tanya Lia.
“Iya. Kita bisa turun di jembatan dekat sini, lalu tong jalan kaki ke asrama,” jelasnya.
Kami pun mengangguk dan bersiap turun.
Speedboat kemudian perlahan diarahkan masuk ke sebuah kali yang menghubungkan langsung dengan kampung yang berada di bagian paling ujung distrik ini. Dari atas speedboat, kami mulai melihat rumah-rumah warga yang berdiri di sepanjang tepian kali.
Suasana mulai berbeda. Setelah sebelumnya kami melewati muara yang luas, kini jalur yang kami lalui semakin sempit dan tenang. Speedboat bergerak perlahan mengikuti aliran kali, membawa kami semakin dekat ke kampung dan asrama yang menjadi tujuan utama perjalanan kami.
Sepanjang perjalanan, kami melihat kehidupan masyarakat Kamoro yang begitu dekat dengan sungai.
Di pinggiran kali, warga yang sedang melakukan aktivitas memperhatikan kami dengan penuh rasa penasaran. Kami melihat anak-anak berlarian, bermain bola, mandi, bahkan mencuci di pinggir kali ini dengan gembira dan bahagia.
Airnya terlihat keruh, tetapi bagi mereka, sungai itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kami hanya bisa membalas tatapan mereka dengan senyum. Sesekali kami menganggukkan kepala sebagai tanda menyapa. Kemudian menggunakan kata sapaan selamat. Tidak banyak kata yang terucap, tetapi sapaan sederhana itu terasa cukup untuk membangun keakraban di tengah perjalanan kami.
Saat itu air sedang surut akibat musim kemarau. Speedboat yang kami gunakan tidak bisa merapat langsung ke asrama. Kami terpaksa memarkirkannya agak jauh dari lokasi asrama sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter.
Tidak jauh dari tempat speedboat kami parkir, kami bertemu dengan beberapa tetua yang sedang berada di sekitar lokasi. Mereka menyapa kami dengan ramah. Sebagian duduk di atas sebuah jembatan semen yang sedang dalam proses pembangunan.
“Kalinya tidak bisa tong lewat, jadi tong jalan kaki dari sini,” ujar pengemudi sekaligus pemandu, untuk kedua kalinya.
Saya menjawab, “Kita akan ikut pemandu saja.”
Kami kemudian mengikuti kedua pemandu tersebut. Kami baru berjalan sekitar dua meter ketika pemandangan di depan kami berubah. Kami harus melewati sebuah jembatan kayu yang kondisinya sudah cukup memprihatinkan.
Papan-papannya terlihat tua dan lapuk. Beberapa bagian fondasi dan penyangganya juga tampak goyang ketika diinjak. Kami berjalan dengan hati-hati karena papan yang warga gunakan kini sudah lapuk sehingga bisa saja sewaktu-waktu kaki kami terselip ke lubang papan atau bisa saja kami jatuh terluka akibat menginjak papan yang lapuk.
Saya membayangkan jika kondisi tersebut terus dibiarkan, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan jembatan itu akan semakin rusak dan berpotensi roboh.
Kami tetap melanjutkan perjalanan melewati jembatan tersebut. Setelah beberapa saat berjalan, sekitar 5 meter, kami akhirnya tiba di rumah salah satu pemandu kami, yakni pengemudi motor atau pengemudi perahu ini.
“Barang yang ingin ditaruh, mari. Nanti setelah kita balik dari asrama baru diambil,” kata pemandu.
Saya menjawab, “Oh iya. Saya cuma mau titip sepatu saja.”
Namun, bukan hanya sepatu yang kami titipkan. Air minum Aqua dan mantel yang kami bawa juga kami letakkan di rumah tersebut. Barang-barang itu untuk sementara kami tinggalkan agar perjalanan menuju asrama menjadi lebih ringan.
Di sisi lain, teman-teman perempuan yang ikut dalam perjalanan ini tampaknya sudah sangat lapar. Sejak perjalanan menyusuri sungai hingga sampai di muara, kami memang menahan lapar. Perjalanan tidak berjalan dengan mudah. Kami beberapa kali dihadapkan pada hujan, air yang dangkal, dan pohon-pohon tumbang yang menghalangi perjalanan.
“Kita makan dulu sudah,” kata Lia.
Saya menjawab, “Iyo, makan sudah.”
Julvi tampaknya agak tidak setuju dengan rencana itu. Karena waktu yang sangat terbatas. Namun, rasa lapar tentu sudah mulai terasa.
“Oh, iyo sudah, tong makan cepat,” katanya.
Karena saya masih belum merasa lapar, saya mengatakan, “Oh iya, sa pu bagian sa mau isi sebentar. Pulang baru saya makan.”
Saya menunggu teman-teman perempuan makan terlebih dahulu. Sambil menunggu, saya duduk dan mengisap sebatang rokok.
Setelah mereka selesai makan, perjalanan kembali dilanjutkan. Kami berjalan menuju asrama dengan dipandu oleh kedua pemandu kami.
Dari sana, kami melewati lorong-lorong di antara rumah warga yang sebagian jalannya sudah dibangun menggunakan semen.
Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana masyarakat setempat bisa membangun dan mengembangkan kampung mereka dengan keterbatasan akses transportasi yang ada?
Untuk mencapai Kokonao, masyarakat masih sangat bergantung pada jalur kali dan muara dengan menggunakan speedboat, sementara pesawat terbang pun tidak setiap saat tersedia. Dalam kondisi seperti itu, membangun fasilitas umum tentu bukan perkara mudah. Setiap material yang masuk membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perjuangan yang tidak sedikit.
Rasa heran bahkan kagum saya semakin besar ketika akhirnya kami tiba di jalan utama Distrik Kokonao. Jalan tersebut ternyata sudah dibangun menggunakan lapisan semen yang cukup tebal dan tampak kokoh. Saya melihatnya bukan sekadar sebagai sebuah jalan, tetapi sebagai gambaran dari usaha masyarakat untuk terus membangun daerahnya di tengah berbagai keterbatasan.
Di sana, rasa heran perlahan berubah menjadi rasa bangga. Kokonao mungkin berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses transportasi yang terbatas, tetapi saya melihat ada semangat masyarakat untuk membuat distrik ini terus berkembang.
Bagi saya, kemajuan seperti ini patut diapresiasi. Sebab di tempat yang aksesnya tidak semudah daerah lain, setiap pembangunan memiliki cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan kemauan masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Melihat jalan-jalan yang mulai tertata dan fasilitas yang terus berkembang, saya semakin menyadari bahwa kemajuan sebuah daerah tidak selalu harus diukur dari kemegahan bangunannya. Kadang, sebuah jalan semen di tengah keterbatasan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa masyarakat di tempat itu tidak pernah berhenti berusaha untuk maju.
Sepanjang jalan dihias dengan bendera mini; lapangan upacara sedang dibersihkan. Suasana di jalan mulai terasa lebih ramai. Banyak warga berlalu-lalang.
Di antara mereka, terlihat anak-anak yang masih berumur sekolah berjalan dari arah berlawanan dengan tujuan kami.
Rupanya, mereka sedang menuju suatu tempat untuk mengikuti berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan peringatan 17 Agustus.
“Ini anak-anak asrama. Coba tanya mereka,” kata pemandu kami
“Oh, iya,” jawab kami hampir bersamaan.
Anak-anak itu agak jauh di belakang kami. Karena urusan kami mau ke asrama mereka, kami memanggil mereka.
“Ade-ade, mari sini!”
Mereka kemudian mendekat.
Devi bertanya kepada mereka, “Di asrama masih ada ade-ade pu teman-teman kah?”
“Iyo, masih banyak,” jawab beberapa anak itu hampir bersamaan.
“Kalau guru masih adakah?” tanya Devi lagi.
“Iyo, ada.”
Jawaban mereka membuat kami sedikit lebih tenang. Artinya, kemungkinan besar kami bisa langsung bertemu dengan penghuni asrama dan pihak yang bertanggung jawab di sana.
“Ade-ade bisa antar kita kah” Tanya Julvi
Ade-ade saling tatap satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan.
“Oh, baik, Kakak-kakak, kami antar.”
Kini dua orang dari rombongan anak-anak tersebut kemudian bersedia mengantar kami. Mereka berjalan bersama kami sampai di jalan masuk menuju Asrama Putri yang lokasinya bersebelahan dengan rumah pastori.
Sesampainya di sekitar asrama, pandangan kami tertuju pada sebuah rumah yang berdiri berdampingan dengan bangunan asrama, tidak jauh dari pintu masuk utama.
Di depan rumah tersebut terlihat beberapa orang sedang duduk. Kami berjalan mendekati mereka dengan langkah kaki yang tertatih-tatih. Saya sengaja membiarkan teman-teman perempuan berjalan lebih dahulu. Sementara itu, saya mencoba memperhatikan kondisi lingkungan asrama secara keseluruhan.
Dari jarak dekat, saya melihat ada beberapa orang yang sedang duduk. Mereka terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Dua di antaranya merupakan warga pendatang dan dua lainnya adalah warga asli Papua. Mereka tampaknya sedang berbincang santai.
Ketika kami tiba di depan rumah tersebut, mereka langsung menyambut kami dengan ramah. Senyum dan jabat tangan menjadi pembuka pertemuan kami.
“Selamat sore,” sapa kami.
Mereka terlihat sedikit bingung. Tatapan mereka tertuju kepada kami beberapa saat, seolah mencoba memahami siapa kami dan apa tujuan kedatangan kami.
Devi kemudian mulai menjelaskan.
“Kami dari Dinas Pendidikan. Kami datang untuk melakukan monitoring.”
Namun, sebelum percakapan berlanjut lebih jauh, saya merasa perlu memastikan terlebih dahulu siapa yang kami temui.
“Tapi izin, Bapak. Sebelumnya kami ingin memastikan dulu. Apakah Bapak sebagai ketua pengurus asrama ini?” tanya saya.
“Oh Tidak. Saya sebagai pembina saja,” jawabnya.
Karena hal yang ingin kami tanyakan sangat urgen, kami meminta kedua pembina asrama itu untuk mengantarkan kami bertemu langsung dengan kepala asrama atau pastor setempat.
Kami berpamit dengan pembina asrama yang awalnya kami jumpai, lalu melangkah ke rumah pastori di mana pastor ini tinggal.
“Oh, kalau begitu, ketua atau kepala pengurus asramanya ada, Pak?” tanya saya.
“Ada. Mau ketemu beliau?” jawabnya.
“Iya, kami mau ketemu beliau,” jawab saya.
“Beliau ada di rumah sebelah,” jelasnya sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat kami sedang duduk ini.
“Saya panggilkan kah?” tawarnya.
“Biar kami yang ke sana saja, Pak,” jawab kami.
“Oh, baik,” katanya.
Salah seorang frater yang berada di tempat tersebut kemudian berdiri dan menawarkan diri untuk mengantar kami.
“Mari, saya antar,” katanya.
Kami pun mengikuti langkah Frater tersebut. Ia berjalan di depan, memandu kami menuju rumah tempat pastor berada.
“Selamat sore, Bapak,” sapa kami serempak.
“Selamat sore. Selamat datang. Baru sampai kah?” tanya Pastor.
Jawab kami “Iya, Pak. Kami baru sampai,”
“Tadi dari kota jam berapa berangkat ke sini?” pastor bertanya
“Sekitar jam sembilan lewat setengah sepuluh, Pak. Kami mulai berangkat dari pamako,” jawab kami.
“Oh, begitu ya.”
“Iya, Pak. Tadi hujan deras dan air juga sedang surut, jadi perjalanan agak lama,” jelas kami.
“Oh, benar,” jawab beliau sambil mengangguk.
Kami kemudian berbasa-basi sebentar. Suasananya cukup santai setelah perjalanan panjang yang kami tempuh dari Timika. Sementara itu, teman-teman perempuan mulai menyiapkan instrumen dan perlengkapan yang akan digunakan untuk wawancara serta pengambilan data. Sebelum rekan-rekan saya mulai bertanya lebih jauh, saya terlebih dahulu memastikan kepada kepala pengurus asrama atau pastor yang kami temui itu mengenai tujuan kedatangan kami.
“Izin, Pak. Sebelum kami berbincang lebih jauh, apakah Bapak sudah mengetahui tujuan kami datang ke sini?”
“Sudah,” jawab Pastor.
Julvi kemudian menambahkan,
“Tadi malam saya sudah sampaikan melalui WhatsApp, Jhon.”
“Oh, kalau begitu mantap, Julvia. Lanjut,” jawab saya.
Kami mempercayakan kepada Devi untuk mewawancarai pengurus atau pastor ini. Devi mengeluarkan lembar instrumen pertanyaan dan bertanya, sedangkan Julvi menulis beberapa hal penting dalam buku catatan, dan Lia merekam semuanya menggunakan HP-nya. Saya hanya menyimak dengan saksama setiap jawaban dari pengurus asrama marangkap pastor ini.
Devi kemudian membuka instrumen wawancara yang sejak tadi dipersiapkannya. Ia memeriksa kembali beberapa pertanyaan, kemudian mulai mengarahkan pembicaraan dengan sopan.
“Izin, Pastor. Boleh kami tahu nama lengkap Pastor?”
Pastor yang duduk di hadapan kami kemudian memperkenalkan dirinya.
“Saya Pastor Paulus Driyan Suwandi, SCJ.”
Devi mengangguk sambil mencatat nama tersebut. Begitupun Julvi dan Lia.
“Baik, Pastor. Kalau boleh kami tahu, sebenarnya siapa yang menjadi pengelola asrama ini?”
Pastor Paulus menjelaskan dengan tenang.
“Kalau pengelolanya sebenarnya adalah Keuskupan. Kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Paroki. Di sini ada pastor dan suster yang bertugas. Jadi, yang sekarang mengelola asrama ini adalah Paroki Maria Bintang Laut, bersama pastor dan suster yang ada di tempat ini.”
Ia kemudian menjelaskan nama asrama yang menjadi tujuan kami.
“Nama asramanya adalah Asrama Maria Bintang Kejora.”
Devi kembali menundukkan kepala, mencatat keterangan tersebut sebelum melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
“Kalau untuk jumlah penghuni asrama sekarang, total anak-anak yang tinggal di sini ada berapa, Pastor?”
“Sekarang totalnya sudah 120 anak,” jawab Pastor Paulus.
Devi kemudian mengangkat wajahnya.
“Dari jumlah tersebut, kira-kira berapa yang merupakan Orang Asli Papua, Pastor?”
“Ini OAP semua,” jawabnya. “Tetapi mayoritas berasal dari suku Mimikawe. Dari Amungme ada sekitar dua orang. Kemudian yang dari pegunungan Intan Jaya ada tiga orang.”
“Kalau untuk putra dan putri, pembagiannya bagaimana, Pastor?”
“Putranya ada 64 dan putrinya ada 56.”
Devi kembali mencatat. Setelah itu, ia mencoba memahami dinamika jumlah penghuni asrama karena saat itu masih berada pada awal semester.
“Berarti sekarang memang jumlahnya masih cukup banyak karena baru masuk semester pertama?”
“Iya,” jawab Pastor Paulus. “Ini kan baru semester awal, jadi memang banyak. Tetapi nanti ketika mereka libur Natal, biasanya banyak yang pulang dan tidak kembali lagi ke sini. Hampir setiap tahun seperti itu.”
Devi tampak sedikit penasaran.
“Jadi, ketika awal masuk jumlahnya banyak, tetapi ketika liburan ada yang tidak kembali lagi?”
“Iya. Tidak seratus persen kembali. Mungkin sekitar 90 persen masih ada. Ada yang tertinggal di kampung.”
“Kenapa mereka bisa tertinggal di kampung, Pastor?”
“Banyak alasannya. Salah satunya karena cuaca di laut. Kadang tidak ada BBM dan ada juga berbagai kendala lainnya. Jadi mereka tidak bisa kembali tepat waktu.”
Devi mengangguk. Ia kemudian beralih kepada kebutuhan dasar anak-anak yang tinggal di asrama.
“Bagaimana dengan ketersediaan makanan, Pastor? Apakah dana hibah yang diberikan juga digunakan untuk membeli bahan makanan?”
Pastor Paulus menggeleng.
“Kalau dana hibah yang diberikan kemarin, sama sekali tidak menyentuh bahan makanan.”
Devi kembali bertanya untuk memastikan.
“Kenapa begitu, Pastor?”
“Karena bahan makanan di sini sudah ada dananya dari Keuskupan. Dana dari Keuskupan itu setiap bulan memang ada, tetapi penggunaannya untuk operasional sehari-hari. Karena itu, untuk dana hibah saya sudah berkoordinasi dengan Pak Kuwaiyo. Kami membicarakan bagaimana penggunaannya supaya tidak terjadi tumpang tindih, terutama untuk kebutuhan makanan.”
Teman-teman mereka mencatat penjelasan tersebut. Kemudian ia mengalihkan pertanyaan kepada persoalan yang sejak awal cukup menarik perhatian kami: air bersih.
“Kalau untuk ketersediaan air, terutama air untuk mandi, bagaimana kondisinya di sini, Pastor? Apakah lancar dan bersih?”
Wajah Pastor Paulus sedikit berubah. Sepertinya persoalan air memang menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi pengelola asrama.
“Itu yang menjadi kesulitan kami di sini,” katanya. “Untuk ketersediaan air bersih, kami hanya mengandalkan air hujan.”
Ia kemudian menunjuk ke arah tempat penampungan air yang telah disiapkan.
“Di sana kelihatan kami sudah siapkan profil untuk menampung air. Kalau untuk mandi, mereka menggunakan air sumur. Tetapi air sumur di sini tidak terlalu bagus. Warnanya agak kekuningan dan rasanya asin.”
Kami memperhatikan arah yang ditunjuk Pastor.
“Berarti kebutuhan air sangat bergantung pada kondisi cuaca?”
“Iya. Makanya kemarin kami coba menambah bak penampungan di situ supaya ketersediaan air bisa lebih banyak.”
Ia tersenyum kecil, lalu melanjutkan.
“Tapi namanya anak-anak, mereka mandi setiap hari dua kali. Jadi, sebanyak apa pun air yang tersedia, pasti akan cepat habis.”
Kami memahami bahwa persoalan air bukan sekadar masalah fasilitas, tetapi juga menyangkut kebutuhan sehari-hari lebih dari seratus anak yang tinggal di asrama.
Devi kemudian masuk ke pertanyaan mengenai tempat tidur dan hunian.
“Kalau untuk fasilitas kamar tidur, bagaimana kondisinya, Pastor?”
“Kalau kasur, akhirnya untuk semester ini kami menggunakan dana hibah kemarin,” jawabnya.
“Sebelumnya memang sudah ada kasur di asrama putra. Sekarang semuanya sudah menggunakan kasur.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
“Tetapi kesulitan kami yang paling besar justru soal hunian.”
Kami menatap Pastor dengan lebih serius.
“Masalahnya di bagian hunian, Pastor?”
“Iya. Nanti bisa lihat sendiri di sana. Gedung lama sudah tidak dipakai. Kemudian gedung baru yang baru sekitar lima tahun digunakan itu sekarang juga sudah tidak dipakai karena risikonya lebih besar.”
“Kenapa gedung itu tidak bisa digunakan lagi?”
“Karena sudah mulai goyang. Struktur bangunannya menggunakan baja ringan dan sekarang sudah rapuh. Tangga untuk naik ke lantai dua juga sudah rubuh.”
Rekan-rekan perempuan tampak terkejut.
“Rubuh, Pastor?”
“Iya. Itu terjadi semester kemarin. Kami sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Keuskupan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut.”
Pastor Paulus kemudian menjelaskan solusi sementara yang mereka ambil.
“Karena itu, secara darurat kami menggunakan gedung Puskesmas sebagai asrama putra.”
“Puskesmas dijadikan tempat tinggal anak-anak?” tanya Devi memastikan.
“Iya. Daripada mereka tidak punya tempat, yang penting mereka bisa tidur dan aman. Kami tidak mau setiap malam harus waswas memikirkan gedung roboh. Ini anak orang. Kalau gedung sampai roboh, tentu banyak yang menjadi korban.”
Suasana percakapan sejenak menjadi hening.
“Jadi penggunaan Puskesmas ini sifatnya hanya sementara, Pastor?”
“Iya, darurat. Karena memang tidak ada tempat lain. Makanya kemarin sebenarnya kami ingin mengajukan dana hibah tahun ini, kalau memungkinkan, untuk membangun hunian. Tetapi akhirnya sulit karena tidak sesuai dengan juknis.”
Devi mengangguk dan kembali mencatat.
Setelah membicarakan hunian, ia melanjutkan pertanyaan mengenai fasilitas belajar.
“Bagaimana dengan fasilitas belajar anak-anak di asrama, Pastor? Apakah ada ruang belajar khusus?”
“Sekarang kalau ruang belajar khusus, tidak ada,” jawab Pastor Paulus. “Akhirnya kami menggunakan beberapa ruangan yang ada. Kadang aula, ruang makan, dan ruang doa.”
Ia kemudian kembali menjelaskan mengenai gedung Puskesmas.
“Sebenarnya kalau Puskesmas ini diserahkan kepada kami, bisa juga kami rombak dan jadikan asrama yang lebih bagus. Cuma dari Dinas Kesehatan belum menyerahkannya kepada Keuskupan. Dari pihak Keuskupan juga sebenarnya tidak mengizinkan gedung itu digunakan sebagai asrama.”
“Lalu mengapa tetap digunakan, Pastor?”
“Karena kami yang tahu situasi di tempat ini. Kondisinya darurat dan tidak ada tempat lain. Jadi mau tidak mau kami gunakan sementara. Sambil menunggu kalau ada bangunan dari Pamako atau tempat lain yang bisa digunakan.”
Devi kemudian berpindah pada persoalan pembinaan anak-anak.
“Kalau untuk pelayanan pembina di sini bagaimana, Pastor?”
“Ini kan masih semester baru. Kalau semester kemarin memang pembagiannya berbeda. Frater yang ada di samping saya ini juga baru mulai semester ini.”
Ia kemudian menjelaskan jumlah pembina.
“Tetapi sekarang pembinanya sudah lumayan. Ada tujuh orang. Jadi ada pembagian tugas. Ada yang bertugas pagi dan ada yang bertugas sore.”
Devi kemudian bertanya tentang kehidupan anak-anak di luar kegiatan sekolah.
“Selain belajar, apakah ada kegiatan lain yang dilakukan anak-anak di asrama?”
“Ada,” jawab Pastor Paulus.
“Untuk kegiatan ibadah, mereka mulai dengan doa pagi, kemudian dilanjutkan dengan misa. Setelah misa mereka sarapan, lalu masuk sekolah.”
“Setelah pulang sekolah bagaimana, Pastor?”
“Setelah pulang sekolah mereka makan siang. Kemudian istirahat sampai sekitar jam tiga sore.”
“Setelah itu?”
“Dari jam tiga sore sampai jam lima, ada waktu untuk olahraga dan ada juga waktu untuk kerja.”
Pastor Paulus kemudian menjelaskan pola kegiatan mereka secara lebih rinci.
“Kalau mengikuti aturan lama, biasanya Senin, Selasa, dan Rabu menjadi waktu kerja. Kemudian Kamis, Jumat, dan Sabtu lebih banyak digunakan untuk kegiatan ibadah. Sampai jam lima sore. Setelah itu lonceng dibunyikan oleh komandan atau yang bertugas, lalu jam enam mereka berkumpul di aula.”
“Apakah ada kegiatan khusus pada sore hari?” tanya Devi.
“Ada. Pada hari-hari tertentu mereka juga latihan koor. Setelah itu mereka belajar langsung di sana. Malamnya makan malam, kemudian mereka mengatur waktu belajar sendiri.”
Devi terlihat tertarik ketika Pastor mulai menceritakan kegiatan akhir pekan.
“Kalau malam minggu bagaimana, Pastor?”
“Kami juga membuat pembagian kegiatan setiap minggu. Minggu pertama ada acara bersama. Minggu kedua biasanya nonton film. Minggu ketiga rekreasi. Kemudian minggu keempat kami bakar sagu dan ikan bersama anak-anak.”
“Bakar sagu dan ikan bersama?”
“Iya,” jawab Pastor sambil tersenyum. “Setelah doa sore, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mencari kayu bakar. Setelah itu mereka diberikan tempat untuk memasak. Mereka memasak sagu secara berkelompok, kemudian makan bersama.”
Ia menjelaskan alasan di balik kegiatan tersebut.
“Tujuannya supaya mereka tidak lupa dengan budaya mereka. Karena orang Mimikawe makanan pokoknya sagu. Kalau mereka terus makan nasi, lama-lama mereka bisa lupa makanan pokok mereka sendiri.”
Devi mengangguk. Bagi kami, kegiatan tersebut bukan sekadar kegiatan rekreasi. Ada upaya untuk menjaga hubungan anak-anak dengan budaya dan kehidupan masyarakat asal mereka.
Setelah cukup panjang membahas kegiatan anak-anak, Devi masuk pada pertanyaan mengenai biaya.
“Apakah asrama ini memungut biaya dari anak-anak, Pastor?”
“Sama sekali tidak memungut biaya untuk kebutuhan asrama sehari-hari,” jawab Pastor Paulus.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ada biaya tertentu pada saat proses masuk.
“Ketika masuk asrama, ada pembayaran sebesar Rp300.000. Kemudian biaya pendaftaran Rp100.000 dan ada biaya sarana-prasarana Rp300.000.”
Devi kemudian memastikan penggunaan biaya tersebut.
“Uang itu digunakan untuk apa saja, Pastor?”
“Untuk beberapa kebutuhan. Misalnya untuk masa bakti sekitar seratus ribu rupiah, rosario sekitar dua puluh lima ribu rupiah, kemudian membeli parang untuk kerja, ember, dan gayung.”
“Kenapa harus membeli ember, Pastor?”
“Karena mereka harus mengambil air dari sumur dan membawanya ke kamar mandi. Jadi ember memang menjadi salah satu perlengkapan yang mereka butuhkan.”
Devi kembali melihat catatannya. Masih ada satu bagian penting yang ingin ia pastikan sebelum wawancara ditutup: realisasi dana hibah.
“Untuk realisasi anggaran bantuan dana hibah tahun kemarin, apakah sudah dijalankan seratus persen?”
“Sudah seratus persen,” jawab Pastor Paulus. “Hanya ada beberapa barang yang belum sampai di sini.”
Devi mengernyitkan dahi.
“Belum sampai maksudnya bagaimana, Pastor?”
“Genset dan bentor itu sekarang masih di Timika. Kalau bentor, kemarin sebenarnya sudah dibawa ke sini. Tetapi baru sampai di Pomako, mengalami kecelakaan dan jatuh ke selokan.”
“Wah, begitu, Pastor?”
“Iya. Akhirnya bagian depannya rusak sama sekali. Kemudian masuk bengkel dan menghabiskan sekitar delapan juta rupiah untuk perbaikan.”
“Kalau genset bagaimana?”
“Genset juga masih di Timika. Kemudian ada perahu juga.”
Pastor Paulus kemudian menegaskan kembali mengenai realisasi anggaran tersebut.
“Jadi, semua dana sudah dibelanjakan semuanya. Tetapi kalau mau cek barang-barangnya, bisa.”
Devi menutup catatannya perlahan. Wawancara itu ternyata membuka banyak hal yang sebelumnya tidak kami ketahui. Di balik keberadaan lebih dari seratus anak di Asrama Maria Bintang Kejora, ternyata ada persoalan air bersih, keterbatasan ruang belajar, kondisi hunian yang mengkhawatirkan, hingga berbagai upaya pengelola untuk menjaga kehidupan dan budaya anak-anak di tengah keterbatasan.
Saya yang sejak tadi ikut mendengarkan percakapan itu hanya diam. Perjalanan panjang menuju Kokonao mulai menemukan maknanya. Kami datang bukan hanya untuk mengisi instrumen monitoring, mencatat angka, dan mengumpulkan dokumen. Kami mulai melihat langsung bagaimana sebuah asrama di wilayah terpencil berusaha bertahan, merawat anak-anak, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan segala keterbatasan yang ada.
Setelah Devi selesai mengajukan pertanyaan dan mencatat seluruh keterangan yang diperlukan, pastor mengajak kami kami melihat langsung kondisi asrama dan berbagai fasilitas yang ada. Kami pun bangkit dari tempat duduk. Pastor Paulus berjalan lebih dahulu, sementara kami mengikuti dari belakang. Devi dan teman-teman masih membawa instrumen monitoring yang sesekali mereka lihat kembali untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
Tempat pertama yang kami lihat adalah garasi bentor.
“Ini garasi untuk bentor. Ini salah satu fasilitas yang dibangun dari bantuan dana yang kami terima.”
Kami berhenti sejenak untuk melihat kondisi garasi tersebut. Pastor menjelaskan bahwa fasilitas itu disiapkan untuk mendukung kebutuhan transportasi dan aktivitas sehari-hari di lingkungan asrama. Devi kembali mencatat beberapa keterangan, Julvi dan Lia mengambil foto sebagai bagian dari dokumentasi monitoring.
Dari garasi, Pastor kemudian membawa kami menuju tempat speedboat ditaruh. Disana terdapat banyak speedboat. Kami bingung yang mana.
“Speedboat yang asrama punya, yang mana, Pastor?” tanya Devi.
Jawab pastor, “Yang paling ujung yang agak besar itu, warna biru. Ini speedboat yang dibeli untuk mendukung kebutuhan transportasi,”
Saya kembali teringat perjalanan kami beberapa jam sebelumnya. Kami sendiri baru saja menggunakan jalur air untuk sampai ke Kokonao. Tanpa transportasi seperti ini, tentu mobilitas masyarakat dan pengelola asrama akan jauh lebih sulit.
“Berarti ini memang sangat penting untuk kebutuhan di sini, Pastor?” tanya Devi.
“Iya. Karena di sini transportasi utama memang melalui air. Jadi, speedboat sangat membantu.”
Kami mengangguk memahami penjelasan tersebut.
“Pelabuhan yang kita sedang berdiri di atasnya ini juga dibangun menggunakan anggarannya.” Kata pastor
Sambil menundukkan kepala kami melihat dengan baik, Pelabuhan ini dibangun dengan kokoh.
Perjalanan kami kemudian dilanjutkan menuju asrama putri.
“Ini juga bagian dari fasilitas yang dibangun?” tanya Devi.
“Iya. Ketika musim hujan, airnya memenuhi halaman yang saat ini sedang kering ini.”
Jadi jembaan ini menghubungkan, lingkungan asrama putri, rumah Pembina, aula, dan dapur. Saya kembali memperhatikan bagaimana kondisi geografis di Kokonao membuat fasilitas sederhana seperti jembatan memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah melihat jembatan, Pastor membawa kami menuju lokasi yang berkaitan dengan genset.
“Kalau gensetnya di mana, Pastor?” tanya Devi.
“Barangnya ada, tetapi untuk unit yang tadi saya jelaskan, masih ada di Timika,” jawabnya.
Devi kembali mencatat keterangan tersebut.
“Berarti nanti kalau barangnya sudah tiba di sini, akan digunakan untuk kebutuhan asrama?”
“Iya, tentu untuk menunjang kebutuhan listrik dan aktivitas di asrama.”
Di tempat yang sama kami melihat berbagai alat music yang masih belum digunakan karena keterbatasan ruangan.
Kami kembali mendokumentasikan fasilitas tersebut.
Setelah itu Pastor membawa kami menuju asrama putri. Saya tidak ikut serta dalam melihat ini, saya hanya berdiri didepan pintu masuknya. Saya membiarkan teman-teman Perempuan saja melihat kondisi ruangan mereka.
Dari asrama putri, kami kemudian berjalan menuju aula.
“Ini aula yang tadi Pastor ceritakan?” tanya Devi.
“Iya. Aula ini juga digunakan untuk berbagai kegiatan. Termasuk kegiatan bersama, doa, dan kegiatan lainnya.”
Devi melihat ke dalam ruangan.
“Berarti aula ini juga digunakan sebagai tempat belajar ketika tidak ada ruang belajar khusus?”
“Iya. Karena ruang belajar khusus memang belum tersedia, jadi beberapa ruangan seperti aula bisa digunakan untuk kegiatan belajar.”
Kami kembali mencatat kondisi fasilitas tersebut.
Setelah dari aula, Pastor membawa kami melihat bagian ruang masak atau dapur.
“Ini bagian ruang masak atau dapur asrama,” jelasnya.
Kami melihat kondisi ruangan tersebut dan beberapa fasilitas yang tersedia. Seperti air bersih untuk memasak, kompor, bama, dan lainnya. Saya berjalan perlahan sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Dari satu bangunan ke bangunan lainnya, mulai terlihat bagaimana bantuan yang diterima berusaha diwujudkan dalam bentuk fasilitas yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan anak-anak.
Dapur atau tempat masak ini merupakan tempat tinggal para suster yang bertugas disana. Sekalian mereka yang mengelolanya.
Dan kami bersalaman dengan suster-suster yang ada disitu. Kemudian Pastor membawa kami menuju bangunan yang sebelumnya sudah ia ceritakan ketika wawancara.
“Sekarang saya mau tunjukkan tempat anak-anak putra tinggal,” katanya.
Kami pun mengikuti Pastor menuju sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai Puskesmas.
“Ini yang tadi Pastor maksud sebagai asrama putra?” tanya Devi.
“Iya. Untuk sementara kami gunakan sebagai asrama putra karena gedung asrama yang lama sudah tidak aman.”
Kami masuk dan melihat kondisi ruangan yang digunakan oleh anak-anak untuk tidur.
Devi tampak memperhatikan kondisi bangunan dengan serius.
“Berarti ini memang sifatnya sementara, Pastor?”
“Iya. Ini hanya karena kondisi darurat. Kami belum punya tempat lain yang lebih layak untuk digunakan.”
Saya kembali teringat penjelasan Pastor sebelumnya tentang kondisi bangunan asrama putra yang lama. Kekhawatiran tentang keselamatan anak-anak menjadi alasan utama penggunaan gedung ini.
Setelah melihat gedung Puskesmas, Pastor kemudian mengajak kami menuju bangunan lama. Namun kali ini saya hanya melihat bangunan puskesmas yang digunakan sebagai asrama putra. Saya tidak ikut serta dalam melihat asrama Putra yang lama.
Setelah seluruh fasilitas utama kami lihat, Pastor membawa kami kembali menuju halaman pastori.
Kami berjalan perlahan. Devi kembali memeriksa catatan dan dokumentasi yang telah dibuat.
“Pastor, terima kasih sudah membawa kami melihat langsung semua fasilitas yang ada,” kata Devi.
“Iya, sama-sama,” jawab Pastor Paulus.
Saya kemudian menambahkan,
“Dengan melihat langsung seperti ini, kami jadi lebih mudah memahami kondisi sebenarnya di lapangan, Pastor. Apa yang tadi kami dengar saat wawancara sekarang bisa kami lihat sendiri.”
Pastor mengangguk.
“Iya. Memang lebih baik kalau melihat langsung. Karena kondisi di sini berbeda dengan yang ada di kota.”
Kami kembali duduk di rumah pastori.
Bagi kami, perjalanan berkeliling itu bukan sekadar melihat bangunan dan mencocokkannya dengan daftar bantuan. Kami mulai melihat bagaimana bantuan pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah hadir dalam bentuk fasilitas yang digunakan untuk menunjang kehidupan anak-anak di asrama.
Namun, di balik fasilitas yang telah tersedia, kami juga menemukan berbagai persoalan yang masih membutuhkan perhatian: keterbatasan air bersih, ruang belajar, hunian putra yang tidak lagi aman, serta kebutuhan fasilitas lain yang harus disesuaikan dengan kondisi geografis Kokonao.
Hari itu, monitoring bagi kami tidak lagi sekadar membaca dokumen dan memeriksa laporan. Kami telah melihat sendiri bagaimana fasilitas tersebut digunakan dan bagaimana kehidupan anak-anak berlangsung di tempat yang jauh dari pusat kota.
Bersambung…












