Part 1 – Monitoring Asrama Maria Bintang Kejora: Sebuah Perjalanan Ditengah Hujan, Muara, dan Perjuangan

Dokumentasi Sebelum Berangkat Ke Kokonao

Pada tanggal 14 Agustus 2026, saya bersama tiga rekan kerja kantor berangkat dari Hotel Serayu menuju Pelabuhan Pamako, Timika, Papua Tengah. Tujuan perjalanan kami adalah untuk mengunjungi sekaligus melakukan monitoring terhadap sebuah asrama yang berada di Distrik Kokonao. Perjalanan ini merupakan pengalaman pertama kami berkunjung ke daerah terpencil, di Kabupaten Mimika.

Ketiga rekan kerja saya dalam perjalanan ini adalah Devi, Julvi, dan Lia. Mereka adalah tiga perempuan hebat yang saya kenal. Di antara mereka, hanya saya seorang laki-laki. Perjalanan ini pun menjadi pengalaman paling mengesankan bagi pribadi saya dan mungkin saja bagi ketiga rekan ini. Mengapa? Sebab kami harus menghabiskan waktu yang panjang bersama dalam sebuah perjalanan kerja menuju Distrik Kokonao, Kabupaten Mimika, yang medan dan kondisinya belum kami ketahui secara persis.

Pagi itu, hujan lebat menyelimuti Kota Timika. Desas-desusnya selama beberapa minggu hujan tidak turun, akhirnya langit kembali menurunkan hujan di kota ini. Mungkin di tempat lain di luar Tanah Papua, hujan turun setiap hari. Namun, di tempat kami tinggal, khususnya di Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah, kondisinya berbeda. Hujan tidak turun selama beberapa bulan. Kami mengalami kekeringan yang parah. Ya, sudahlah, itu hal lain.

Alarm di handphone saya berbunyi. Alarm yang saya set untuk bangun pagi yakni jam 06.00 WIT. Kini saya terbangun dari tempat tidur. Saya keluar dari kamar tidur ke teras untuk menghirup udara pagi yang masih segar. Saya di teras itu sekitar 10 menit. Saya kembali ke kamar tidur, saya mengambil handphone, menyalakan data internet, dan tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk. Saya memeriksa handphone dan melihat ada pesan dari Kak Lia dan Devi. Rupanya, pesan tersebut sudah dikirim sejak sekitar pukul 05.35 WIT.

Saya membuka pesan dari Kak Lia terlebih dahulu.

“Selamat pagi, Ade, jam 07.00 kita jalan.”

Saya menjawab singkat “Gass.”

Tidak lama kemudian, Kak Lia membalas, “Kita sarapan di ruang makan hotel dulu, lalu kita jalan.”

Saya menjawab sambil menyertakan emoji tersenyum “Brikan kak, sa tra biasa makan pagi.”

Kak Lia kemudian membalas: “Baik, ade.”

Ia juga menyertakan emoji tersenyum sebelum menutup percakapan kami.

Setelah menutup chat dengan Kak Lia, saya membuka pesan dari Devi. Ternyata isinya hampir sama.

“Jhon, tong gas jam 7 ehhh.”

Saya menjawab: “Oke, brikan.”

Tidak lama kemudian, Devi kembali bertanya, “Jhon di mana? Tong ada makan di ruang makan. Setelah makan mo langsung jalan.”

Saya kemudian membalas “Makan, Dev. Sa tra sarapan.”

“Baik-baik.”

“Siap.”

Percakapan singkat itu menjadi awal dari perjalanan kami pagi itu.

Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIT. Dari tempat saya menginap di lantai dua Hotel Serayu, saya melihat ketiga rekan kerja saya sudah berada di depan lobi hotel. Jadi, dari kamar hotel saya ke lobi sekitar 4 meter; begitu pula ketiga rekan saya ini. Bangunannya dipisah-pisah. Kami memesan kamar masing-masing di bangunan yang berbeda.

Rekan-rekan saya telah bersiap dengan rapi dan tampak sedang menunggu sesuatu. Saya tahu mereka sedang menunggu Maxim yang akan menjemput kami.

Karena hujan masih cukup deras, saya memilih untuk tidak langsung keluar. Saya menunggu di teras lantai dua hingga Maxim yang dipesan benar-benar tiba.

Tidak lama kemudian, kendaraan yang ditunggu akhirnya muncul. Saya pun bergegas turun dari teras lantai dua menuju lantai satu. Namun, saya tidak langsung menuju lobi tempat ketiga rekan saya menunggu, meskipun jaraknya hanya sekitar 4 meter dari tempat saya berdiri. Hujan yang masih deras membuat saya memilih untuk menunggu di tempat yang lebih terlindung.

Maxim berhenti tepat di depan ketiga rekan saya. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Sementara itu, saya memilih menunggu di samping kafe, tepat di jalur keluar hotel itu.

Tidak lama kemudian, setelah ketiga rekan saya berada di dalam mobil, mobil bergerak perlahan mendekati tempat saya berdiri. Saya pun dijemput di samping kafe tersebut.

Setelah semuanya siap dan kami telah berada di dalam kendaraan, perjalanan pun akhirnya dimulai.

Dari Hotel Serayu, perjalanan membawa kami melewati kawasan Pasar Lama dan sejumlah kampung yang berada di Kota Timika. Hujan masih turun membasahi jalan. Aktivitas masyarakat mulai terlihat, sementara kendaraan perlahan memenuhi ruas-ruas jalan kota.

Perjalanan menuju Kokonao pun resmi dimulai. Di balik perjalanan sederhana ini, ada sebuah tugas yang harus kami selesaikan dengan mengunjungi, melihat secara langsung, dan memonitor kondisi asrama yang berada jauh dari pusat Kota Timika.

Kami belum tahu seperti apa perjalanan yang akan kami hadapi setelah meninggalkan kota. Namun, satu hal yang pasti: pagi itu kami berangkat dengan satu tujuan yang sama, menjalankan tugas dan melihat langsung keadaan di Kokonao.

Setibanya kami di Pelabuhan Pamako, kami sudah ditunggu oleh dua orang pemuda yang akan memandu kami menuju tempat tujuan. Kami belum tahu apa tugas dan fungsi dari masing-masing pemudi ini.

Sebelumnya, kedua pemuda tersebut sudah dihubungi oleh sahabat kami, Julvi. Mereka juga sudah berkomunikasi dan mengetahui rencana perjalanan kami. Jadi, setelah tiba di Pamako, tugas kami tinggal mengikuti arahan mereka.

Keduanya akan mengawal perjalanan kami hingga tiba di Kokonao.

Setibanya di sana, kami bersalaman dengan kedua pemuda tersebut, juga dengan seorang orang tua laki-laki dan dua orang mama-mama suku Kamoro yang sedang duduk di rumah itu. Kami tidak turun tepat di pelabuhan, melainkan di rumah warga yang berada di pinggir jalan. Kebetulan, rumah tersebut merupakan milik salah satu orang yang akan mengantar kami menuju Kokonao.

Kami sempat bergurau dan berbincang sebentar dengan mereka semua yang ada di situ. Di tengah percakapan, pengemudi speedboat mengatakan bahwa kami akan berangkat setelah hujan sedikit reda. Kami hanya bisa menjawab “baik”. Hujan saat itu masih cukup deras sehingga kami memilih menunggu.

Beberapa menit kemudian, hujan mulai agak reda. Kami pun diajak menuju tempat speedboat mereka diparkirkan. Kedua mama yang ada tadi ikut menemani kami ke sana hingga kami berpisah. Sebelum naik, kami mulai mengenakan pakaian anti-air atau mantel yang sebelumnya telah dibeli oleh teman Julvi untuk persiapan perjalanan.

“Sebelum berangkat, mari kita foto dulu,” ajak Kakak Lia.

Karena saya bukan orang yang terlalu suka berfoto, saya pun menjawab santai kepada teman-teman.

“Saya malas foto.”

“Bah, Jhon, ini tong punya dokumentasi untuk pelaporan nanti,” kata Kakak Lia sambil mengingatkan.

Saya akhirnya mengalah.

“Okelah, kalau begitu.”

Kami meminta bantuan kepada seorang mama yang sejak awal mengantar kami menuju tempat speedboat yang akan membawa kami ke Kokonao. Kami pun memasang gaya di speedboat itu bersama untuk mengabadikan momen sebelum perjalanan dimulai. Foto itu bukan sekadar untuk kenang-kenangan, tetapi juga menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan dan laporan monitoring kami ke Kokonao.

Setelah selesai berfoto, kami mengenakan mantel yang sudah dibeli. Lalu satu per satu kami naik ke dalam speedboat dan memastikan barang-barang yang kami bawa sudah tersimpan dengan baik di dalam terpal yang sudah disediakan.

Tak lama kemudian, mesin speedboat dinyalakan. Suara mesinnya memecah suasana pagi itu. Perjalanan menuju Kokonao pun sebentar lagi dimulai.

Pengemudi kemudian menoleh kepada kami.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Sudah,” jawab kami serentak.

Saya, Lia, Julvi, dan Devi pun saling memandang. Ada rasa antusias, tetapi juga sedikit ketegangan karena kami akan menempuh perjalanan melalui jalur kali dan muara menuju Kokonao.

Speedboat perlahan mulai bergerak meninggalkan tepian. Dari situlah perjalanan kami menuju Kokonao benar-benar dimulai.

Perlahan speedboat mulai menelusuri aliran kali yang menjadi jalur perjalanan kami menuju Distrik Kokonao.

Namun, perjalanan tidak semudah dan seindah yang kami bayangkan.

Di beberapa bagian kali, air ternyata sangat dangkal. Sesekali saya bersama pemuda yang bertugas sebagai penunjuk arah harus turun dari speedboat untuk mendorongnya agar bisa kembali bergerak.

Kami terus menelusuri kali yang panjang. Sesekali kami harus menunduk melewati pohon yang tak sengaja rubuh ke kali itu. Kemudian, hujan sesekali deras. Hingga akhirnya tiba di sebuah muara yang terbentang begitu luas.

Hujan mulai reda, hanya rintik-rintik. Di muara itu pun kami kembali menghadapi berbagai kendala. Ada beberapa bagian yang dipenuhi pasir dan cukup dangkal sehingga speedboat tidak bisa melintas dengan mudah. Lagi-lagi, saya dan pemuda penunjuk arah harus turun untuk mendorong speedboat agar bisa melewati bagian tersebut.

Perjalanan kemudian berlanjut. Di tengah perjalanan, saya melihat dua buah speedboat berhenti di tengah muara. Dari jauh, mata saya tersorot kepada satu orang yang ada di speedboat itu, memberi kami kode isyarat kepala tangan, yang artinya kurangi kecepatan dan berhenti. Kami tidak mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Ketika jarak kami mulai mendekat, salah seorang dari mereka memberikan isyarat agar speedboat kami berhenti.

Namun, karena kami belum tahu apa yang mereka lakukan. Pengemudi pun hanya memperlambat laju speedboat. Ketika speedboat kami berada di samping, saat itulah saya melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.

Ternyata!

Masyarakat mereka sedang memindahkan jenazah seseorang yang akan dibawa menuju Kokonao. Jenazah tersebut dipindahkan ke speedboat lain yang memiliki pelindung atau atap, agar peti dan jenazah di dalamnya tidak terkena hujan.

Saya hanya bisa menarik napas panjang.

Dalam hati saya berpikir, beginikah nasib orang-orang yang tinggal jauh di daerah terpencil dan wilayah rawa seperti ini?

Di tempat seperti ini, bahkan perjalanan untuk mengantar seseorang menuju tempat peristirahatan terakhir pun harus melewati sungai dan muara dengan kondisi yang tidak mudah.

Tidak ada jalan darat yang bisa dilalui dengan cepat. Tidak ada kendaraan yang bisa langsung membawa mereka ke tempat tujuan. Air, hujan, pasir, dan kondisi alam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah ini.

Kami kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Tidak lama berselang, dari kejauhan saya melihat seekor buaya sedang bersantai di sekitar muara. Saya sempat memperhatikannya beberapa saat. Dalam hati saya berpikir untuk tidak memberitahukan teman-teman perempuan karena khawatir mereka akan panik dan membuat suasana perjalanan menjadi tegang.

Namun, pemuda yang bertugas sebagai penunjuk arah ternyata melihat buaya itu juga.

Ia kemudian berkata kepada kami,

“Eh, tadi tong baru saja melewati buaya.”

Seketika Kaka Lia terkejut.

“Buaya?! Di mana?”

“Yang tadi di sebelah sana,” jawabnya sambil menunjuk ke arah belakang speedboat.

“Serius kah?!” tanya Devi dengan nada kaget.

“Iya, tadi saya lihat juga,” jawab pemuda itu.

Julvi langsung melihat ke belakang.

“Mana? Saya tra lihat!”

“Sudah jauh,” jawabnya.

Kaka Lia kemudian menatap saya.

“Jhon, ko tadi lihat juga kah?”

Saya hanya tersenyum kecil.

“Iya, saya tadi lihat.”

“Terus kenapa ko tra bilang?” tanya Lia dengan nada sedikit kesal sekaligus khawatir.

“Saya takut nanti kalian panik,” jawab saya sambil tertawa kecil.

“Bah, Jhon! Justru harus kasih tahu kalau ada begitu!” kata Devi.

Kami pun tertawa kecil. Meski sempat dikejutkan oleh cerita tentang buaya tersebut, suasana kembali tenang karena buaya itu sudah berada cukup jauh dari speedboat kami.

Perjalanan ternyata belum selesai dengan mudah.

Beberapa kali kami mengalami situasi yang cukup menegangkan. Speedboat hampir tenggelam ketika mesinnya menabrak pohon yang berada di jalur perjalanan. Kami juga sempat mengalami kendala ketika mesin speedboat masuk ke bagian yang penuh pasir sehingga perahu terdampar.

Kami kembali turun dan berusaha mendorong speedboat agar dapat melewati bagian tersebut.

Semua kendala itu kami lewati satu per satu. Hujan, air dangkal, pasir, batang pohon, buaya, hingga kondisi muara yang sulit dilalui menjadi bagian dari perjalanan kami hari itu.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya kami tiba di Distrik Kokonao.

Begitu speedboat mulai mendekati tepian, teman-teman perempuan langsung menunjukkan rasa lega.

“Ah, akhirnya sampai juga!” kata Lia.

“Puji Tuhan, sampai dengan selamat,” ujar Devi.

Julvi tersenyum sambil melihat ke arah daratan.

“Capek, tapi seru juga perjalanan ini.”

Saya hanya tersenyum melihat mereka.

“Iya, akhirnya kita sampai.”

Ada rasa lega ketika akhirnya kami melihat papan nama yang tertancap dengan kokoh yang bertuliskan “DISTRIK KOKONAO” di ujung muara. Perjalanan dari Pamako menuju Kokonao bukan sekadar perjalanan menggunakan speedboat.

Bagi saya, perjalanan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat di wilayah terpencil menjalani kehidupan mereka berdampingan dengan sungai, rawa, hujan, pasir, dan alam yang menjadi satu-satunya jalan penghubung mereka dengan dunia luar.

Dan perjalanan itu membuat saya semakin menyadari bahwa bagi masyarakat di wilayah seperti Kokonao, perjalanan yang bagi kita mungkin hanya beberapa jam, bagi mereka merupakan bagian dari perjuangan hidup sehari-hari.

 

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *