Pdt. Louis Mote Bergerilya Bersama Tn. Tadius Yogi di Medan Perang di Madi dan Pugo Hingga Menyerah Menjadi Masyaraka Biasa

(Mengungkap Fragmen Sejarah yang Jarang Dituliskan tentang Keterlibatan Tokoh Gereja dalam Konflik Papua Era 1980-an)

Oleh: Jhon Minggus Keiya

Sejarah Papua tidak hanya dibentuk oleh tokoh politik, aparat keamanan, atau kelompok bersenjata. Di balik konflik yang berkepanjangan, terdapat kisah-kisah para guru, tenaga kesehatan, kepala kampung, dan tokoh gereja yang hidup di tengah pusaran peristiwa tanpa pernah benar-benar memiliki ruang untuk menghindarinya. Salah satu fragmen sejarah yang jarang mendapat perhatian adalah perjalanan hidup almarhum Pdt. Louis Mote, seorang pelayan gereja yang pada awalnya mendedikasikan hidupnya untuk memberitakan Injil, membangun jemaat, dan melayani masyarakat, tetapi kemudian memilih bergabung dengan Tadius Yogi dalam perang gerilya di Madi dan Pugo sebelum akhirnya menyerahkan diri demi menyelamatkan masyarakatnya.

Berdasarkan kesaksian hidupnya, perjalanan tersebut tidak lahir dari cita-cita untuk mengangkat senjata. Louis Mote tumbuh sebagai seorang pelayan gereja. Ia menempuh pendidikan melalui Sekolah Buta Huruf yang didirikan Badan Misi CAMA pada dekade 1950-an, melanjutkan pendidikan teologi di Enarotali atas dorongan Pdt. Walter Post, merintis jemaat-jemaat baru, menjadi guru Sekolah Alkitab, Sekretaris Klasis Enarotali, hingga dipercaya menggembalakan jemaat di Pugo. Riwayat hidup itu menunjukkan bahwa identitas utamanya adalah seorang pendeta yang mengabdikan diri kepada gereja dan masyarakat, bukan seorang pejuang bersenjata. Namun, dinamika konflik Papua pada awal 1980-an memperlihatkan bagaimana batas antara pelayanan gereja, kehidupan masyarakat, dan konflik politik menjadi semakin kabur.

Menurut kesaksian yang tertuang dalam Hidup dan Karya John Rumbiak “Gereja, LSM dan Perjuangan HAM dalam Tahun 1980-an di Tanah Papua.” Oleh Pdt. Benny Giay, Pdt. Louis Mote, mengalami penangkapan, interogasi, pemukulan, dan perlakuan yang membuatnya merasa tidak lagi dipandang sebagai pelayan gereja, melainkan sebagai musuh. Pengalaman itu, sebagaimana ia tuturkan, menjadi titik balik yang mengubah seluruh jalan hidupnya hingga memilih bergabung dengan kelompok OPM di bawah pimpinan Tadius Yogi. Bertahun-tahun kemudian, ia mengambil keputusan untuk menyerahkan diri setelah jemaat dan masyarakat memintanya melakukan hal tersebut demi menghindari ancaman yang lebih besar terhadap kampung-kampung mereka. Setelah menjalani masa penahanan, ia kembali ke masyarakat dan memilih mengabdi sebagai kepala kampung hingga akhir hayatnya.

Artikel ini tidak ditulis untuk membenarkan ataupun menyalahkan pilihan-pilihan yang pernah diambil oleh Pdt. Louis Mote. Sebaliknya, tulisan ini mengajak pembaca melihat kisah tersebut sebagai bagian dari sejarah Papua yang perlu dipahami secara utuh, dengan memperhatikan konteks sosial, politik, dan keamanan yang melingkupinya. Sejarah tidak selalu menghadirkan tokoh yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Sering kali sejarah memperlihatkan bagaimana manusia dipaksa mengambil keputusan-keputusan yang lahir dari situasi yang penuh tekanan, ketakutan, dan keterbatasan pilihan.

Sebagai anak muda Papua, saya memandang kisah Pdt. Louis Mote bukan sekadar biografi seorang pendeta atau catatan tentang konflik bersenjata. Saya melihatnya sebagai cermin dari luka sejarah yang masih diwariskan hingga hari ini. Melalui kisah ini, saya mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat bagaimana konflik mengubah perjalanan hidup seorang tokoh gereja, tetapi juga merenungkan pelajaran yang dapat dipetik agar generasi Papua masa kini tidak lagi dipaksa menghadapi pilihan-pilihan tragis yang sama. Memahami sejarah bukan berarti menghidupkan kembali permusuhan, melainkan membangun kesadaran bahwa perdamaian, martabat manusia, dan ruang dialog harus menjadi warisan yang lebih berharga daripada konflik yang terus berulang.

 

Siapa Pdt. Louis Mote?

 Saya tidak bisa membahas secara spesifik mengenai Pdt. Louis Mote, tetapi saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan apa yang saya baca. Jadi, sebelum masyarakat mengenal Pdt. Mote, sebagai bagian dari sejarah perlawanan bersenjata di Paniai, lebih dahulu dikenal sebagai seorang pelayan gereja. Inilah satu dari banyak bagian sejarah yang sering terlupakan. Banyak orang hanya mengenal akhir dari perjalanan hidupnya, tetapi hanya sedikit yang memahami bagaimana perjalanan itu dimulai.

Pdt. Louis Mote lahir dan tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Mee di wilayah Madi. Pada dekade 1950-an, ketika akses pendidikan di pedalaman Papua masih sangat terbatas, ia mulai mengenal dunia pendidikan melalui Sekolah Buta Huruf yang didirikan oleh Badan Penyiaran Injil CAMA. Dari tempat sederhana itulah ia belajar membaca dan menulis, sebuah kesempatan yang pada masa itu belum dimiliki banyak orang Papua.

Kecerdasannya menarik perhatian para misionaris. Atas anjuran Pdt. Walter Post, Louis, kemudian melanjutkan pendidikan teologi di Enarotali. Keputusan itu mengubah arah hidupnya. Ia tidak memilih menjadi pegawai pemerintah ataupun pedagang. Ia memilih melayani gereja dan masyarakatnya. Setelah menyelesaikan pendidikan, Louis merintis sejumlah jemaat, menjadi gembala jemaat di Madi, kemudian dipercaya sebagai guru Sekolah Alkitab Kebo selama enam tahun. Setelah terbentuknya Klasis, ia kembali dipercaya sebagai Sekretaris Klasis Enarotali selama dua periode berturut-turut. Bahkan Badan Misi CAMA pernah berencana mengutusnya ke Sekolah Alkitab di Makassar untuk memperdalam pelayanannya, meskipun rencana tersebut akhirnya tidak terlaksana.

Rangkaian kepercayaan itu menunjukkan bahwa Louis bukanlah tokoh sembarangan. Ia dikenal karena kemampuannya, dedikasinya, dan kepemimpinannya dalam pelayanan gereja. Ia membangun jemaat, membimbing masyarakat, dan menjadi salah satu tokoh yang dihormati di wilayahnya. Tidak ada catatan bahwa cita-cita hidupnya adalah menjadi bagian dari konflik bersenjata. Identitas utamanya adalah seorang pendeta yang mengabdi kepada umat.

Namun, sejarah Papua memperlihatkan bahwa pada masa itu batas antara pelayanan gereja, kehidupan masyarakat, dan konflik politik sering kali menjadi kabur. Tokoh gereja, guru, kepala kampung, tenaga kesehatan, hingga pegawai pemerintah di kampung-kampung sering berada dalam posisi yang sulit. Mereka hidup di tengah masyarakat, tetapi juga berada di bawah pengawasan aparat keamanan. Dalam situasi seperti itu, sekecil apa pun hubungan dengan masyarakat dapat menimbulkan kecurigaan.

Sebagai anak muda Papua, saya melihat kisah Pdt. Louis Mote bukan sekadar biografi seorang pendeta. Saya melihatnya sebagai potret bagaimana seorang pemimpin masyarakat dapat terseret ke dalam pusaran konflik yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Sebelum masyarakat menilai keputusan-keputusan yang ia ambil, kita perlu memahami terlebih dahulu siapa dirinya dan dalam situasi seperti apa ia hidup. Tanpa memahami konteks itu, kita akan mudah menghakimi seseorang hanya dari akhir kisahnya, tanpa pernah mengetahui proses yang membawanya ke sana.

Di sinilah pelajaran penting bagi generasi muda Papua. Sejarah harus dipelajari secara utuh, bukan dipotong-potong sesuai kepentingan tertentu. Kita perlu berani membaca sejarah dari berbagai sudut pandang agar dapat memahami mengapa begitu banyak tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh gereja di masa lalu menghadapi pilihan-pilihan yang sangat sulit. Memahami sejarah bukan untuk membenarkan semua tindakan yang pernah terjadi, melainkan agar kita mampu mengambil hikmah dan memastikan bahwa generasi Papua hari ini tidak lagi dipaksa menghadapi pilihan-pilihan tragis yang sama.

 

Pendeta Louis Dipandang Sebagai Musuh Oleh ABRI

Tidak ada perubahan besar dalam hidup seseorang yang terjadi tanpa sebab. Begitu pula dengan Pdt. Louis Mote. Jika pada awal hidupnya ia dikenal sebagai seorang guru Alkitab, gembala jemaat, dan pemimpin gereja yang dihormati, maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah mengapa ia akhirnya bergabung dengan OPM, melainkan apa yang terjadi hingga seorang pendeta merasa tidak lagi memiliki ruang untuk tetap berdiri di tengah umatnya sebagai pelayan Tuhan?

Berdasarkan kisah yang dituturkannya, perubahan itu tidak lahir dalam satu malam. Ia berawal dari suasana yang dipenuhi rasa curiga. Pada awal 1980-an, ketika konflik di Paniai semakin meningkat, hampir seluruh tokoh masyarakat ditempatkan dalam posisi yang sulit. Pendeta, guru, mantri kesehatan, kepala kampung, bahkan pegawai negeri dipandang sebagai orang-orang yang patut diawasi. Pelayanan kepada masyarakat sering kali dipersepsikan sebagai bentuk dukungan kepada OPM. Kecurigaan mulai mengalahkan kepercayaan.

Situasi masyarakat saat itu juga diwarnai dengan berbagai tindakan yang meninggalkan trauma. Dalam kesaksian yang dimuat dalam buku tersebut, diceritakan bahwa seorang pemuda dari Pugo ditangkap, diinterogasi, dan disiksa. Setelah kembali ke kampungnya, ia mengalami gangguan mental. Di sisi lain, masyarakat diwajibkan mengikuti aturan-aturan tertentu ketika memasuki Enarotali, seperti berpakaian dengan cara tertentu, memotong rambut, serta mencukur kumis dan janggut. Bagi sebagian masyarakat Papua pada masa itu, kebijakan-kebijakan tersebut dipandang sebagai tekanan terhadap identitas dan kehidupan mereka.

Puncak dari perubahan itu terjadi ketika Pdt. Louis Mote sendiri dipanggil ke Pos ABRI. Ia datang bukan sebagai pelaku kejahatan yang telah diadili, tetapi sebagai seseorang yang telah lebih dahulu dicurigai. Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bagaimana dirinya diinterogasi, dipukul, diancam, bahkan diikat hingga akhirnya melarikan diri. Pengalaman itulah yang kemudian ia sebut sebagai peristiwa yang mengubah seluruh jalan hidupnya.

Kalimat yang paling menggugah dalam kesaksiannya adalah ketika ia mengatakan:

“Interogasi dari ABRI di pos ABRI mengubah seluruh hidup saya. Saya berubah.”

Bagi saya sebagai anak muda Papua, kalimat ini jauh lebih penting daripada sekadar membahas pilihan politik yang kemudian ia ambil. Kalimat itu memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya menghancurkan tubuh manusia, tetapi juga menghancurkan kepercayaan. Ketika seseorang merasa diperlakukan bukan sebagai warga, bukan sebagai pendeta, bukan sebagai manusia yang memiliki martabat, maka yang runtuh terlebih dahulu adalah rasa percaya.

Di sinilah saya melihat akar persoalan Papua yang sesungguhnya. Selama hubungan antara masyarakat Papua dan aparat keamanan dibangun di atas rasa saling curiga, luka lama akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak akan tumbuh mendengar cerita tentang penangkapan, penyiksaan, pengungsian, dan ketakutan. Sementara aparat juga akan terus melihat kampung-kampung Papua sebagai wilayah yang penuh ancaman. Lingkaran ini akan terus berputar jika tidak diputus.

Sebagai anak muda Papua, saya tidak ingin generasi saya hidup hanya dengan mewarisi trauma. Saya ingin kami mewarisi keberanian untuk membangun kembali kepercayaan di antara sesama orang Papua, menjaga persatuan antarsuku, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat melalui cara-cara yang menjunjung martabat manusia. Sejarah Pdt. Louis Mote harus menjadi pelajaran bahwa ketika ruang dialog tertutup dan rasa saling percaya hilang, maka yang tersisa hanyalah konflik yang terus memakan korban.

Papua membutuhkan generasi yang berani membaca sejarah dengan jujur, bukan untuk memperpanjang kebencian, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pendeta, guru, kepala kampung, atau anak muda Papua yang suatu hari dipaksa mengubah jalan hidupnya karena hidup di tengah ketakutan. Itulah pelajaran terbesar yang saya tangkap dari kisah Pdt. Louis Mote, dan itulah alasan mengapa sejarah ini harus terus dibaca oleh generasi muda Papua hari ini.

 

Medan Perang Adalah Pilihan Satu-satunya

Setelah berhasil melarikan diri dari Pos ABRI, Pdt. Louis Mote tidak kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Berdasarkan kesaksiannya, pengalaman ditangkap, diinterogasi, dipukul, diikat, dan diperlakukan sebagai musuh telah mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi dipandang sebagai seorang pelayan gereja, melainkan sebagai pihak yang harus disingkirkan. Dalam keadaan seperti itulah ia mengambil keputusan yang menurut keyakinannya saat itu merupakan satu-satunya jalan yang masih tersisa.

Sebelum meninggalkan kampung, Pdt. Louis Mote mengumpulkan jemaat untuk berdoa, menyerahkan pelayanan kepada Badan Pengurus Jemaat, serta meminta istri dan anak-anaknya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Keesokan harinya ia bergabung dengan Tadius Yogi dan kemudian dipercaya menjadi wakil panglima. Dari sudut pandang Pdt. Louis Mote sendiri, keputusan tersebut bukanlah pengkhianatan terhadap panggilannya sebagai pendeta, melainkan konsekuensi dari pengalaman yang ia alami setelah merasa tidak lagi memiliki ruang untuk menjalankan pelayanannya secara aman.

Bagi saya, kisah ini menunjukkan bahwa sejarah Papua tidak dapat dibaca secara hitam putih. Terlalu sederhana apabila seseorang hanya melihat bahwa Pdt. Louis Mote adalah seorang pendeta yang kemudian bergabung dengan OPM, tanpa memahami rangkaian peristiwa yang mendahuluinya. Sebelum keputusan itu diambil, ia telah mengabdikan hidupnya kepada gereja, merintis jemaat, mendidik masyarakat, dan melayani umat selama bertahun-tahun. Pengalaman yang ia alami kemudian menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah kehidupannya.

Dalam perjalanan gerilya bersama Tadius Yogi, Pdt. Louis Mote ikut memimpin berbagai operasi dan menyaksikan rekan-rekannya gugur. Namun perjuangannya tidak berlangsung tanpa pergulatan batin. Ketika jemaat dan masyarakat berkali-kali datang memintanya menyerahkan diri karena khawatir seluruh kampung akan dibakar dan masyarakat menjadi korban, ia akhirnya memilih menyerahkan diri. Keputusan itu diambil bukan karena meninggalkan keyakinannya, tetapi karena, menurut kesaksiannya, keselamatan rakyat, keluarga, dan jemaat harus ditempatkan di atas kepentingan dirinya sendiri.

Sebagai anak muda Papua, saya melihat Pdt. Louis Mote sebagai seorang tokoh gereja yang mengambil keputusan berdasarkan keyakinan, pengalaman hidup, dan realitas yang ia hadapi pada zamannya. Setiap orang tentu dapat memiliki penilaian yang berbeda terhadap keputusan tersebut. Namun, sebelum memberikan penilaian, kita perlu memahami konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Sejarah akan lebih adil apabila dibaca secara utuh, bukan hanya dari akhir kisahnya, tetapi juga dari proses yang membentuk pilihan-pilihan hidup seseorang.

 

Warisan Luka, Tanggung Jawab Generasi Muda Papua

Perjalanan Pdt. Louis Mote tidak berakhir ketika ia bergabung bersama Tadius Yogi dalam perang gerilya. Justru bagian yang paling menunjukkan kedalaman tanggung jawabnya adalah ketika ia memutuskan untuk menyerahkan diri. Berdasarkan kesaksiannya, keputusan itu bukan lahir karena ia menganggap perjuangannya keliru ataupun karena merasa kalah. Ia memilih menyerahkan diri setelah berkali-kali didatangi oleh jemaat dan masyarakat yang memohon agar ia mengambil langkah tersebut demi menyelamatkan kampung mereka dari ancaman operasi militer yang dikhawatirkan akan mengorbankan rakyat sipil. Dalam pertimbangannya, keselamatan keluarga, jemaat, dan masyarakat harus didahulukan daripada dirinya sendiri.

Keputusan itu menunjukkan bahwa di tengah konflik yang keras, Pdt. Louis Mote tetap menempatkan masyarakat sebagai pertimbangan utama. Beban yang ia pikul bukan hanya sebagai seorang pejuang, tetapi juga sebagai seorang pendeta yang memahami penderitaan umatnya. Pilihan untuk menyerahkan diri merupakan keputusan yang berat, tetapi menurut kesaksiannya itulah jalan yang dianggap paling mampu melindungi rakyat dari penderitaan yang lebih besar.

Setelah menyerahkan diri, Pdt. Louis Mote menjalani penahanan selama empat bulan dan dijadikan buruh di Koramil. Sembilan tahun kemudian ia kembali ke kampung halamannya. Jemaat berkeinginan mengangkatnya kembali sebagai pendeta, tetapi ia memilih jalan pengabdian yang lain. Ia menolak kembali ke mimbar gereja dan memilih menjadi kepala kampung hingga akhir hayatnya. Pilihan itu memperlihatkan bahwa di mana pun ia berada, orientasi hidupnya tetap sama, yakni mengabdikan diri kepada masyarakat.

Sebagai anak muda Papua, saya melihat perjalanan hidup Pdt. Louis Mote sebagai kisah tentang pengabdian yang melewati berbagai fase kehidupan. Ia pernah menjadi guru Alkitab, gembala jemaat, pemimpin dalam masa konflik, tahanan, hingga akhirnya kembali menjadi pelayan masyarakat sebagai kepala kampung. Semua fase itu memperlihatkan bahwa kecintaannya kepada rakyat Papua tidak berhenti hanya karena perubahan keadaan.

Bagi saya, pelajaran terbesar dari kisah ini bukan sekadar tentang konflik, melainkan tentang keberanian memikul tanggung jawab terhadap masyarakat dalam setiap keadaan. Sejarah Pdt. Louis Mote menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukan hanya diukur dari keputusan yang diambil pada masa perang, tetapi juga dari kesediaannya kembali hidup bersama rakyat, membangun kampung, dan mengabdikan dirinya setelah konflik berlalu.

Karena itu, saya berharap generasi muda Papua tidak hanya mengenang Pdt. Louis Mote sebagai bagian dari sejarah perjuangan, tetapi juga sebagai teladan pengabdian kepada masyarakat. Generasi kami mempunyai tanggung jawab untuk menjaga sejarah ini agar tidak hilang, mempelajarinya secara utuh, dan mengambil nilai-nilai yang dapat membangun masa depan Papua. Pengabdian kepada rakyat dapat diwujudkan melalui pendidikan, penelitian, pelayanan sosial, kepemimpinan yang berintegritas, pelestarian budaya, dan keberanian menyuarakan aspirasi masyarakat secara bertanggung jawab.

Saya percaya bahwa setiap generasi memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Jika generasi Pdt. Louis Mote menghadapi zamannya dengan segala keterbatasan dan tantangan yang ada, maka generasi Papua hari ini memiliki tanggung jawab untuk membangun masa depan melalui ilmu pengetahuan, persatuan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi menjadi sumber pembelajaran bagi lahirnya generasi Papua yang mampu menjaga martabat, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan dirinya bagi kemajuan tanah Papua.

 

Menjadikan Sejarah sebagai Cermin, Bukan Alasan untuk Mengulanginya

Sebagai anak muda Papua, saya percaya bahwa sejarah memiliki dua wajah. Sejarah bisa menjadi guru yang membimbing kita menuju masa depan yang lebih baik, tetapi sejarah juga bisa menjadi api yang terus membakar jika hanya diwariskan sebagai kebencian. Kisah Pdt. Louis Mote mengajarkan bahwa konflik meninggalkan luka yang sangat dalam. Namun, apakah generasi kami akan terus hidup di dalam luka itu atau menjadikannya pelajaran adalah pilihan kami sendiri.

Saya tidak ingin sejarah Pdt. Louis Mote dibaca hanya sebagai kisah seorang pendeta yang akhirnya mengangkat senjata. Saya ingin sejarah itu dibaca sebagai peringatan bahwa ketika ruang kemanusiaan semakin sempit, ketika masyarakat hidup dalam rasa takut, dan ketika dialog tidak lagi dipercaya, maka akan lahir keputusan-keputusan yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.

Papua telah kehilangan terlalu banyak. Terlalu banyak orang tua yang menangisi anaknya. Terlalu banyak anak yang tumbuh tanpa ayah. Terlalu banyak kampung yang pernah kosong karena masyarakat harus mengungsi. Terlalu banyak sekolah yang berhenti belajar karena situasi keamanan. Terlalu banyak gereja yang akhirnya lebih sering menjadi tempat berlindung daripada tempat membangun harapan.

Karena itu, perjuangan generasi muda Papua hari ini harus memiliki arah yang jelas. Kita tidak boleh membiarkan sejarah berhenti hanya sebagai cerita yang dikenang. Sejarah harus menjadi dasar untuk membangun kesadaran baru. Kesadaran bahwa setiap keputusan yang mengorbankan rakyat akan selalu meninggalkan penderitaan yang panjang.

Sebagai anak muda Papua, saya memilih memperjuangkan Papua melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, tulisan, penelitian, dan penguatan masyarakat adat. Saya percaya bahwa orang Papua harus mampu menulis sejarahnya sendiri, mendokumentasikan pengalaman para orang tua, dan menyampaikan suara rakyat kepada dunia dengan cara yang bermartabat. Selama ini terlalu banyak kisah tentang Papua ditulis oleh orang lain. Sudah saatnya generasi muda Papua juga menjadi penulis sejarahnya sendiri.

Saya juga percaya bahwa gereja, lembaga adat, perempuan Papua, kaum intelektual, mahasiswa, dan pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang dialog di tengah masyarakat. Konflik telah membelah banyak hubungan. Karena itu, rekonsiliasi harus dimulai dari masyarakat sendiri. Kita harus berani saling mendengar, menghormati perbedaan pandangan, dan menempatkan keselamatan rakyat di atas kepentingan apa pun.

Mengakhiri militerisme di Papua, menurut pandangan saya, bukan sekadar soal mengurangi keberadaan aparat atau menghentikan baku tembak. Yang lebih penting adalah mengakhiri cara berpikir yang selalu menempatkan persoalan Papua sebagai persoalan yang hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan kekuatan. Selama senjata menjadi bahasa utama, rasa takut akan terus hidup di tengah masyarakat. Papua membutuhkan ruang di mana rakyat dapat hidup, beribadah, berkebun, bersekolah, dan berbicara tanpa dihantui ketakutan.

Saya sadar bahwa jalan menuju Papua yang damai bukanlah jalan yang singkat. Akan ada perbedaan pendapat, akan ada luka yang belum sembuh, dan akan ada tantangan yang tidak mudah. Namun, saya percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama. Dan langkah pertama itu adalah memastikan bahwa generasi muda Papua tidak lagi tumbuh dengan mewarisi kebencian, tetapi dengan mewarisi kesadaran, keberanian berpikir, dan komitmen untuk menjaga martabat sesama manusia.

Jika kisah Pdt. Louis Mote mengingatkan kita tentang bagaimana konflik dapat mengubah seorang pelayan gereja menjadi bagian dari peperangan, maka generasi muda Papua hari ini harus membuktikan bahwa sejarah juga dapat bergerak ke arah sebaliknya: dari pengalaman konflik menuju pembangunan perdamaian yang berakar pada kemanusiaan, persatuan, dan penghormatan terhadap kehidupan rakyat Papua.

Itulah warisan yang ingin saya perjuangkan. Bukan warisan kebencian, melainkan warisan keberanian untuk memastikan bahwa anak-anak Papua di masa depan mengenal bunyi lonceng gereja, tawa di halaman sekolah, dan suara kehidupan yang damai—bukan lagi hidup di bawah bayang-bayang konflik yang terus berulang.

 

Penutup

Ketika saya selesai membaca kisah Pdt. Louis Mote, saya tidak melihatnya hanya sebagai sebuah biografi. Saya melihatnya sebagai sebuah pertanyaan yang ditinggalkan kepada generasi muda Papua. Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat berat: apakah kita akan terus mewarisi konflik, atau kita akan mulai membangun masa depan yang berbeda?

Pdt. Louis Mote telah menjalani zamannya. Ia mengalami penderitaan, membuat pilihan yang menurut keyakinannya saat itu harus diambil, menanggung konsekuensinya, kemudian kembali kepada masyarakat hingga akhir hidupnya. Kita mungkin memiliki penilaian yang berbeda terhadap keputusan-keputusan yang ia ambil, tetapi satu hal yang tidak dapat disangkal adalah bahwa konflik telah mengubah jalan hidupnya. Dan kisah itu tidak boleh dipisahkan dari konteks sejarah yang melingkupinya.

Sebagai anak muda Papua, saya tidak ingin melihat semakin banyak kisah seperti Pdt. Louis Mote yang lahir di tanah ini. Saya tidak ingin ada lagi guru yang meninggalkan sekolah karena konflik. Saya tidak ingin ada lagi pendeta yang meninggalkan mimbar karena rasa takut. Saya tidak ingin ada lagi tenaga kesehatan yang tidak bisa menjangkau kampung-kampung karena situasi keamanan. Dan saya tidak ingin ada lagi anak-anak Papua yang tumbuh dengan suara tembakan lebih sering mereka dengar daripada suara guru di ruang kelas.

Papua memiliki semua syarat untuk menjadi tanah yang maju. Kita memiliki kekayaan alam, budaya yang luar biasa, bahasa yang beragam, adat yang kuat, dan generasi muda yang semakin berpendidikan. Namun, semua itu akan sulit berkembang jika konflik terus menjadi wajah yang paling dikenal dari Papua. Tidak ada pembangunan yang akan bertahan lama di atas rasa takut. Tidak ada pendidikan yang akan berkembang di tengah pengungsian. Tidak ada kesejahteraan yang akan tumbuh jika masyarakat terus hidup dalam bayang-bayang kekerasan.

Karena itu, saya percaya bahwa perjuangan generasi muda Papua harus dimulai dengan membangun manusia Papua. Kita harus memperkuat pendidikan, melahirkan lebih banyak penulis, peneliti, guru, dokter, pengacara, pendeta, tokoh adat, seniman, dan pemimpin muda yang berintegritas. Kita harus mampu berbicara tentang Papua dengan data, dengan sejarah, dengan budaya, dan dengan argumentasi yang bermartabat. Dunia harus mengenal Papua bukan hanya karena konflik, tetapi juga karena kualitas manusia Papua.

Saya juga mengajak sesama anak muda Papua untuk tidak membiarkan perbedaan pandangan memecah persaudaraan kita. Kita boleh berbeda cara berpikir, berbeda keyakinan politik, bahkan berbeda pandangan tentang masa depan Papua. Tetapi kita tidak boleh kehilangan rasa hormat terhadap sesama orang Papua. Persatuan adalah modal terbesar yang kita miliki. Jika kita saling melemahkan, maka yang diuntungkan bukanlah rakyat Papua.

Pesan terakhirku dari tulisan ini, jika kita ingin mengakhiri militerisme, bukan hanya tentang mengurangi senjata. Mengakhirinya juga berarti mengakhiri rasa takut, mengakhiri kebencian yang diwariskan, mengakhiri stigma yang memecah masyarakat, dan membuka ruang agar rakyat Papua dapat hidup dengan martabat. Itu adalah pekerjaan yang panjang dan tidak mungkin dilakukan oleh satu orang saja. Namun, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik tetap memiliki arti.

Saya menulis artikel ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi agar luka itu tidak lagi diwariskan kepada anak-anak Papua di masa depan. Sejarah Pdt. Louis Mote harus menjadi pengingat bahwa konflik selalu memiliki harga yang sangat mahal. Jangan sampai generasi kami mengulang kesalahan yang sama hanya karena gagal belajar dari masa lalu.

Sebagai anak muda Papua, saya memilih berdiri di pihak rakyat. Saya memilih berdiri di pihak kemanusiaan. Saya memilih berdiri di pihak pendidikan, persatuan, dan martabat orang Papua. Karena saya percaya, masa depan Papua tidak boleh terus ditentukan oleh suara senjata, tetapi oleh keberanian rakyatnya untuk membangun tanah ini dengan hati, pikiran, dan kasih terhadap sesama.

Papua telah terlalu lama menangis. Kini saatnya generasi muda Papua menjadi alasan mengapa tanah ini kembali memiliki harapan.

 

 

Referensi

Benny Giay (2011) Hidup dan Karya John Rumbiak “Gereja, LSM dan Perjuangan HAM dalam Tahun 1980an di Tanah Papua.” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *